Pandemi Corona dan Sejarah Azan Pitu di Cirebon Halau Wabah Penyakit

Sudirman Wamad - detikNews
Senin, 23 Mar 2020 19:37 WIB
Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tradisi unik, yakni azan pitu saat salat Jumat. Sesuai namanya, azan pitu dikumandangkan serempak oleh tujuh muazin.
Foto: Sudirman Wamad
Cirebon -

Wabah virus Corona tengah melanda Indonesia. Pemerintah menetapkan status darurat Corona hingga 29 Mei.

Ledakan pasien yang positif corona melonjak. Awal Maret lalu, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan dua pasien positif corona. Hingga hari ini, Senin (23/3/2020), menurut data yang dirangkum detikcom sampai pukul 15.45 WIB sebanyak 579 pasien dinyatakan positif, 49 meninggal dunia dan 30 di antaranya sembuh.

Sejumlah daerah menyatakan status siaga terhadap penyebaran corona. Social distancing, menjaga jarak interaksi sosial menggema di dunia maya, termasuk imbauan bekerja di rumah. Pemerintah dan masyarakat bersatu melawan corona.


Cerita tentang wabah penyakit yang mengerikan juga pernah terjadi di Cirebon. Ya, cerita wabah penyakit yang konon berhasil dilawan suara azan. Azan yang khas dari Kota Wali, julukan Kota Cirebon. Namanya 'azan pitu,'. Pitu dalam bahasa Jawa bermakna tujuh. Artinya, azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang atau muazin.

Azan pitu dikumandangkan setiap Salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, salah satu masjid tertua di Kota Cirebon yang berada di sekitar komplek Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Perlawanan tujuh muazin terhadap wabah penyakit mengerikan itu merupakan salah satu sejarah fenomenal di Cirebon. Wabah penyakit tersebut dibuat oleh salah seorang yang sakti mandraguna, namanya Menjangan Wulu.

Serangan wabah penyakit Menjangan Wulu itu terjadi pada era Sunan Gunung Jati. Salah seorang muazin azan pitu yang juga pengurus DKM Agung Sang Cipta Rasa, Moh Ismail menceritakan lahirnya strategi azan pitu sebagai obat penawar wabah penyakit Menjangan Wulu itu,ide dari istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Pakung Wati.

Selanjutnya
Halaman
1 2