Rapid Test Massal Corona di Jabar Dimulai Pekan Depan

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Minggu, 22 Mar 2020 14:34 WIB
ilustrasi corona
(Foto: ilustrasi corona)
Bekasi -

Pemerintah memberlakukan rapid test atau tes massal virus Corona. Di Jawa Barat, tes massal akan dilakukan mulai pekan depan.

"Kepada warga Kota Bekasi, besok (Senin), Minggu ini akan dilakukan tes massal dengan rapid test," ucap Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Stadion Patriot Bekasi, Jabar, Minggu (22/3/2020).

Pernyataan Kang Emil sapaan Ridwan Kamil itu disampaikan dalam konferensi pers di Kota Bekasi. Konferensi pers itu disiarkan langsung melalui akun Instagram Pikobar_Jabar yang merupakan pusat informasi virus Corona di Jabar.

Kembali ke soal Rapid Test. Menurut Emil, alat untuk melakukan tes massal itu sampai hari ini belum ada. Namun, kata dia pemerintah pusat sudah menjanjikan alat akan tiba di Bandung dalam waktu dekat.

"Jadi itu akan dilaksanakan kalau barang datang besok tes massal Selasa paling telat Rabu," kata Kang Emil.

Kang Emil menambahkan peserta tes massal akan untuk tahap satu akan dilakukan terhadap orang dalam pemantauan (ODP) serta 50 orang terdekat dan terhadap pasien dalam pengawasan (PDP) dan 50 orang terdekatnya. Kemudian 50 orang terdekat dari pasien yang positif Corona.

Berdasarkan data Pikobar sendiri, saat ini ada 1.774 ODP, 157 PDP dan 55 positif Corona di Jabar.

"Siapa yang harus dites massal tahap satu? Pertama semua ODP dan 50 orang terdekat dari si ODP ini. Karena teori kesehatan mengatakan potensi ada di sana. Sama juga semua PDP dan 50 orang terdekat si PDP dan sama juga yang positif serta 50 orang terdekat yang positif," kata Emil.

Kang Emil menegaskan rapid test berlaku bagi masyarakat yang masuk kriteria. Menurutnya, tidak semua warga bisa dites menggunakan rapid test ini.

"Tidak bisa semua ingin dites karena tidak mungkin. Di Korea Selatan saja dari 45 juta penduduknya, sebagai negara paling canggih tes massalnya, itu hanya 200 ribu. Jadi berbanding 45 juta. Ini harus diclearkan karena banyak masuk ke saya kapan dites karena menganggap seperti sensus jawabannya tidak, tetap ada screening dan kriteria sehingga tahu penyebaran kemana," tuturnya.

(dir/mud)