Kisah Ki Sartono, 35 Tahun Jadi Dalang Cerita soal Mitos Wayang

Siti Fatimah - detikNews
Minggu, 08 Mar 2020 19:24 WIB
Kisah Ki Sartono, 35 Tahun Jadi Dalang Cerita Soal Mitos Wayang
Kisah Ki Sartono, 35 Tahun Jadi Dalang Cerita Soal Mitos Wayang (Foto: Siti Fatimah)
Bandung -

Ki Sartono, pria kelahiran Banyumas menjadi pedalang wayang kulit sejak 1985. Setelah 35 tahun bergelut dalam pewayangan, ada ratusan kisah yang pernah ia bawakan. Seperti pagelaran sebelumnya ia membawakan cerita lakon Gatotkaca Mbangun Ksatria.

"Bangun itu meningkatkan, membangun, berarti kata kerja. Ksatrian itu sebuah gedung, kalau sekarang kan bisa diartikan seorang ksatria yang mempunyai kesatuan. Disamping membangun secara fisik, juga jiwa satria, jiwa satria kan didasari dengan kebenaran. Cablaka itu jujur, apa yang diucapkan sama dengan yang di hati dan bertanggung jawab." jelasnya saat ditanyai makna dari kisah yang ia bawakan, Minggu (8/3/2020) di Teras Sunda Jalan A. H Nasution Kota Bandung.

Keinginannya menjadi dalang telah muncul sejak Ki Sartono remaja. Bukan hanya dari kesenian saja, laki-laki lulusan Universitas Sudirman Fakultas Pertanian ini juga menggeluti ilmu pengetahuan dan mengenyam pendidikan hingga sarjana.

Lanjutnya, belajar seni pedalangan ini ada prosesnya. Mulai dari belajar karawitan termasuk gamelan hingga penokohan wayang. Ia sendiri belajar dari para tokoh-tokoh dalang di Jawa Tengah termasuk Solo dan Yogyakarta.

"Salah satu guru saya Sugino Siswocarito, cukup lama mendekat kepada dia dan mengambil ilmu-ilmu dari beliau," ujarnya.

Baginya, menjadi dalang adalah menjadi sebuah pengantar pesan. Ada banyak makna filsafat yang terkandung dalam pewayangan. Ia menganggap misinya berhasil jika pesan yang ia sampaikan dapat diterima oleh penonton dan penikmat seni.

"Senangnya itu kalau berhasil, berhasil bisa menyuguhkan sesuai dengan tujuannya dan yang dikehendaki oleh penonton dan penikmat seni," ujarnya.

Ki Sartono juga menceritakan tentang mitos mengenai menonton wayang kulit ini. Misalnya seperti 'ruwat anak' yang sebagian orang mensakralkannya. "Ilmu itu berdimensi empat, yang kita pelajari baru tiga dimensi dan yang keempat ini hanya beberapa orang yang dapat melihatnya," jelasnya.

Tradisi ruwat ini dilaksanakan dengan menampilkan wayang kulit namun ditampilkan pada siang hari. Dalam cerita wayang lakon Murwakala melakukan ruwat untuk pensucian atau pensucian kepada dewa yang telah ternodai agar suci kembali.

Mitos yang berkembang di masyarakat lainnya yaitu penonton tidak boleh meninggalkan tempat sebelum pagelaran selesai. Dalam hal ini, Ki Sartono mengembalikan pada kepercayaan masing-masing. Tradisi yang diyakini sebagai mitos oleh masyarakat Jawa lainnya yaitu menggelar wayang kulit pada satu syuro' atau satu muharram dalam Islam.

Setelah menjadi dalang selama tiga dekade lebih, Ki Sartono merasakan perubahan dalam melestarikan budaya wayang. "Kita dituntut untuk melestarikan budaya dan dituntut dengan perubahan perubahan yg ada. Karena budaya itu berubah sesuai dengan kondisi masyarakat," tutupnya.

Ki Sartono sebelumnya menjadi dalang dalam perayaan milad ke-4 Papermas (Paguyuban Perantau Banyumas) Koordinator Wilayah Bandung. Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan, Kadisbudpar Kota Bandung Kenny Dewi, Kadisbudpar Kabupaten Banyumas Saptono, dan Mantan Bupati Banyumas Marjoko.

(mud/mud)