Banyak Lulusan SMK Menganggur, Dede Yusuf: Fasilitas Tak Sesuai Industri

Muhammad Iqbal - detikNews
Jumat, 06 Mar 2020 17:53 WIB
Angka Pengangguran Tinggi di Sektor Kejuruan, Dede Yusuf: Fasilitas Harus Sesuai dengan Industri
Dede Yusuf (Foto: Muhammad Iqbal)
Bandung -

Wakil Ketua Komisi X DPR, Dede Yusuf Macan Effendi menyoroti angka penggangguran lulusan SMK yang tinggi. Fasilitas dan teknologi yang dimiliki sekolah kejuruan tidak sesuai dengan perkembangan industri menjadi salah satu alasan lulusan SMK kurang diminati industri.

Berdasarkan data rilis Badan Pusat Statistik Februari 2019, tingkat pengangguran terbuka mencapai 7,73 persen. Lulusan SMK menjadi penyumbang terbanyak pengangguran, dibandingkan jenjang pendidikan lainnya, mencapai 12,22 persen.

Menurut Dede Yusuf, sektor ini memerlukan investasi yang cukup tinggi. Di mana, SMK memerlukan fasilitas dan teknologi yang sesuai dengan perkembangan industri.

"SMK itu lebih besar investasinya dari pada SMA karena ia harus punya peralatan, apalagi SMK Teknik yang dituntut harus punya peralatan, yang mana peralatan itu harus diupdate setiap tiga tahun," ujarnya saat ditemui di sela kunjungannya ke SMK 1 Angkasa Margahayu, Kabupaten Bandung, Jumat (6/3/2020).

Hal inilah, menurutnya, harus diperhatikan pemerintah pusat khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar mampu mengoptimalkan SDM yang unggul di masa yang akan datang. Yang mana salah satu prioritas pemerintahan kedua Jokowi adalah SDM Unggul.

"Sekarang pendidikan vokasi (SMK) menjadi target daripada pak Jokowi, yang mana sering disebut SDM unggul. SDM unggul itu memiliki skil, kemampuan yang mampu diserap dalam lapangan kerja," ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Barat (2008-2013) itu.

Politisi Demokrat itu menambahkan, SMK memiliki potensi untuk menjadi lumbung SDM Unggul. Karena di SMK, tuturnya, akan diberi latihan vokasional yang cukup untuk menunjang kemampuan SDM itu sendiri.

"SMK punya potensi untuk itu, karena mereka yg diberi itu vokasional-vokasional training, dalam waktu 3 tahun ada yang sampai 4 tahun. Tetapi mereka juga harus punya link and match dengan industri," jelasnya.

Menurutnya sektor pendidikan kejuruan harus didukung supaya mampu menekan angka pengangguran.

"Konsen inilah yang membuat kami mendorong dari Kementerian Pendidikan, (kejuruan) itu harus kembali berjaya, artinya mengejar ketertinggalannya dari pengangguran itu sendiri," pungkasnya.

Salah satu dukungan yang bisa dilakukan saat ini, menurutnya, adalah peralatan yang sesuai perkembangan industri.

"Dukungan itu, satu, peralatan. Nggak harus anak-anak ini menggunakan teknologi yang tahun 90-an, sekarang udah tahun 2020, jadi artinya dari itu saja harus ada bantuan," ujarnya.

(mud/mud)