Kisah Kampung Adat Cirendeu dan Tragedi Kuburan Massal Pemulung

Whisnu Pradana - detikNews
Jumat, 21 Feb 2020 23:34 WIB
Warga Kampung Adat Cirendeu Mengenang Tragedi Leuwigajah
Pameran karya olahan sampah di Leuwigajah Cimahi. (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)
Cimahi -

Sebelum dikenal sebagai kampung yang memiliki warga adat dan sarat akan nilai sejarah serta budaya, lebih dari 15 tahun lalu Kampung Adat Cireundeu justru dikenal sebagai kampung sampah.

Sebutan tersebut melekat lantaran kampung adat yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, ini merupakan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kota Cimahi. Tempat itu lebih dikenal dengan nama TPA Leuwigajah.

Sampah menggunung dan menebarkan aroma tak sedap. Namun, gunungan sampah itu menjadi lumbung penghasilan ratusan orang yang menggantungkan hidupnya menjadi pemulung, sekaligus kuburan masal bagi para pemulung yang tengah mencari nafkah.

Tepat pada 21 Februari 2005, di lokasi tersebut, sebanyak 157 orang tewas tertimbun oleh gunungan sampah yang diperkirakan mencapai 200 ton. Sebelum kejadian, kawasan Leuwigajah diguyur hujan hingga gas metan terakumulasi dan memicu ledakan dari gunungan sampah. Ombak sampah juga turut menenggelamkan dua kampung di dekat lokasi ledakan, yakni Kampung Cilimus dan Kampung Pojok.

Kisah Kampung Adat Cirendeu dan Tragedi Kuburan Massal PemulungSesepuh dan warga Kampung Adat Cirendeu tabur bunga dan air di tebing lokasi longsor. (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)

Lahan eks-TPA Leuwigajah, saat ini sudah rimbun oleh rerumputan dan pepohonan. Warga tak merasa trauma mendekati lahan yang berada di sisi tebing tepat di depan Gunung Gajah Langu.

Untuk mengenang arwah para pemulung dan warga yang masih berkerabat dengan warga Kampung Adat Cireundeu lainnya, Jumat (21/2/2020), para sesepuh, masyarakat, serta anak sekolah, melaksanakan ritual tabur bunga di tebing dekat lokasi ledakan sampah.

Mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala bercorak batik, rombongan mulai bergerak ke tebing yang jalannya dipenuhi rerumputan sambil menenteng bunga dan kendi air, untuk ditabur di titik longsor. "Jumlah yang meninggal itu 157 orang," ucap Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi, saat ditemui usai upacara adat.

"Kita yang masih punya kepedulian terhadap korban, saudara kami yang saat tertidur, bahkan saat itu melakukan ritual ikut tertimbun. Kita lakukan ritual tabur bunga," tutur Abah Widi menambahkan.

Selanjutnya
Halaman
1 2