Mengenang Tragedi Longsor Sampah di TPA Leuwigajah

Whisnu Pradana - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 20:46 WIB
Lokasi eks TPA Leuwigajah
Foto: Lokasi eks TPA Leuwigajah (Whisnu Pradana/detikcom)
Cimahi -

Kampung Adat Cireundeu, di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, telah bertransformasi menjadi salah satu tempat paling menarik di Kota Cimahi. Padahal belasan tahun silam, saat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah masih beroperasi, tak banyak orang yang mau mendatangi kampung tersebut.

Perubahan kehidupan warga Kampung Adat Cireundeu berubah 180 derajat usai peristiwa longsor sampah tahun 2005, yang menewaskan 150 orang itu. Para korban tewas tertimbun longsoran sampah.

Gunungan sampah sepanjang 200 meter dengan tinggi 60 meter itu goyah karena diguyur hujan deras. Akumulasi gas metan dari tumpukan sampah meledak dan membuat gundukan sampah longsor bak ombak menerjang tubuh-tubuh pemulung malang.

Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu Abah Widi menceritakan mengenai kejadian naas tersebut. Meski telah belasan tahun berlalu, namun masih lekat di ingatan pria paruh baya itu bagaimana pedihnya kehilangan sanak saudara. Arwah para pemulung, rutin didoakan warga setempat dalam upacara peringatan yang rutin digelar tiap tanggal 21 Februari yang juga bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

"Sekarang memang sudah agak berkurang kekhidmatan dari upacara peringatannya. Hanya kami warga yang kehilangan saudara yang masih peduli dengan upacara dan mendoakan arwah yang meninggal, kalau pemerintah tidak ada," kata Abah Widi saat ditemui di kediamannya, Rabu (19/2/2020).

Menurutnya, tragedi memilukan yang menewaskan ratusan korban jiwa tidak perlu diperingati secara meriah. Paling penting, kata dia, mereka yang datang bisa ikut merasakan dan mendoakan para korban yang tewas tertimbun longsoran sampah.

"Siapapun boleh datang ke Kampung Adat Cireundeu, untuk berwisata, untuk menenangkan diri, atau untuk sekadar mengingat longsor sampah. Yang penting semua datang dalam tujuan baik dan mendoakan yang terbaik," ucapnya.

Lahan eks-TPA Leuwigajah, saat ini sudah rimbun oleh rerumputan dan pepohonan. Warga tak merasa trauma mendekati lahan yang berada di sisi tebing tepat di depan Gunung Gajah Langu.

Pihaknya juga menyatakan, menolak apabila ada rencana mengembalikan kawasan tersebut menjadi TPA. Pihaknya tidak ingin tragedi menyedihkan kembali terulang.

"Sudah cukup 20 tahun kami menderita karena tempat tinggal kami yang sarat budaya, adat, dan sejarah, jadi tempat sampah. Dulu anak-anak kami malu kalau pergi keluar, karena pakaiannya pasti bau sampah, Kampung Adat Cireundeu dulu lebih dikenal sebagai kampung sampah," ucapnya.

Mengenai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang ditetapkan tiap 21 Februari berdasarkan kejadian di kampungnya, Abah Widi mengingatkan pada semua pihak, jika sampah bukan hanya menjadi tugas pemerintah sebagai pemangku kepentingan.

"Hari Peduli Sampah Nasional itu karena kejadian nahas di kampung kami. Dari situ kita ambil kesimpulan, sampah bukan cuma tanggung jawab pemerintah. Tapi tanggung jawab semua pihak," ujarnya.

(mso/mso)