Sikapi Ridwan Saidi, Pemkab Ciamis Bakal Kumpulkan Sejarawan-Budayawan

Dadang Hermansyah - detikNews
Senin, 17 Feb 2020 21:40 WIB
Warga Ciamis melakukan memprotes ucapan Ridwan Saidi yang menyebut tidak ada Kerajaan Galuh di Ciamis. Galuh juga disebut Ridwan Saidi memiliki arti brutal. Aksi itu juga dihadiri oleh Bupati Ciamis Herdiat Sunarya.
(Foto: Dadang Hermansyah) Bupati Ciamis Yana D Putra
Ciamis -

Pemkab Ciamis akan mengumpulkan sejarawan dan budayawan pada Kamis (19/2/2020). Langkah ini menyikapi ucapan Budayawan Betawi Ridwan Saidi yang menyebut galuh artinya brutal dan di Ciamis tak ada kerajaan.

Karena ucapan ini berbagai elemen warga Ciamis ramai-ramai melakukan protes dan kecaman kepada Ridwan Saidi. Kecaman datang dari media sosial, hingga masyarakat turun langsung ke jalan melakukan aksi.

"Rencana kita, nanti hari Kamis akan mengundang sejarawan, budayawan dan unsur lainnya. membahas soal Kerajaan Galuh dan menyikapi hal itu," ujar Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra di Kantor Sekretariat Daerah Ciamis, Senin (17/2/2020).

Yana menegaskan, peninggalan Kerajaan Galuh sudah dilakukan penelitian sebelumnya. Bahkan peneliti yang melakukan penelitian lebih dari 1 orang. Yana menyebut Prof Nina Lubis dan Prof Sobana Hardjasaputra.

"Menurut mereka Kerajaan Galuh ada. Saya pun yakin itu, Kerajaan Galuh ada dan akan selalu ada," ungkap Yana.

Pada pertemuan Kamis nanti, Yana menegaskan tak mengundang Ridwan Saidi untuk hadir di acara tersebut. Ia menyatakan tak perlu capek-capek meyakinkan Ridwan Saidi yang berpandangan berbeda terhadap Galuh.

"Ridwan Saidi tidak kita undang. Dengan pertemuan nanti tentunya bisa lebih meyakinkan kita akan Galuh," ucap Yana.

Terkait dengan langkah Pemkab Ciamis untuk menempuh jalur hukum terhadap Ridwan Saidi, Yana menyebut akan melihat hasil dari pertemuan pada Kamis nanti. "Soal itu (tempuh jalur hukum) kita lihat hasil kamis nanti," katanya.

Dalam pertemuan itu, Yana menyebut menjadi momentun untuk menyusun dan menerbitkan buku sejarah Kerajaan Galuh. Sehingga itu bisa menjadi pegangan bahwa Kerajaan Galuh ada dan akan tetap ada.

"Jadi substansialnya itu adalah semangat Kegaluhan, kerajaan yang pernah jaya dan merupakan cikal bakal kerajaan-kerajaan di Nusantara. Jadi bisa menghadirkan kembali kejayaan Galuh. Memang ada hikmah dari kejadian ini, sangat terasa," pungkas Yana.

(mud/mud)