Mengenal Kerajaan Galuh Versi Budayawan Ciamis

Dadang Hermansyah - detikNews
Sabtu, 15 Feb 2020 08:30 WIB
Astana Gede Kawali Ciamis
Pintu masuk Astana Gede Kawali, salah satu situs peninggalan Kerajaan Galuh. (Foto: Dadang Hermansyah/detikcom)
Ciamis -

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, menyebut Galuh artinya brutal dan di Ciamis tidak ada kerajaan. Pernyataan itu membuat warga Ciamis tersinggung. Budayawan Ciamis angkat bicara tentang sejarah Kerajaan Galuh.

Budayawan Ciamis Aip Syarifudin menjelaskan ada sejumlah kerajaan di Jawa Barat yaitu Kerajaan Galuh, Kerajaan Salakanagara, dan Kerajaan Tarumanagara. Ketika Tarumanagara mulai pudar, kemudian muncul dua kerajaan yakni Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Kerajaan Galuh didirikan oleh Wretikandayun pada abad ke-7 Masehi tepatnya 23 Maret 612 Masehi. Wretikandayun semula berkuasa di daerah Kendan. Kendan termasuk wilayah kekuasaan Tarumanagara. Pada masa Raja Tarusbawa pamor, kerajaan Tarumanagara memudar. Kondisi ini dimanfaatkan Wretikandayun untuk memisahkan Kendan dari Tarumanagara.

Wretikandayun kemudian memindahkan pusar pemerintahannya ke daerah Bojong Galuh, Karangkamulyan, yang merupakan pusat Kerajaan Galuh. Sedangkan Tarusbawa mendirikan Kerajaan Sunda sebagai kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara.

Dua Raja ini lalu melakukan perundingan dan menyepakati bahwa sungai Citarum menjadi batas wilayah dua kerajaan. "Kerajaan Galuh manggung cukup lama dari abad ke-7," ujar Aip Syarifudin kepada detikcom, Sabtu (15/2/2020).

Selanjutnya
Halaman
1 2