Warga Ciamis Protes Ucapan Ridwan Saidi di Youtube yang Sebut Galuh Brutal

Dadang Hermansyah - detikNews
Kamis, 13 Feb 2020 11:43 WIB
Warga Ciamis memperlihatkan cuplikan video Ridwan Saidi dalam sebuah chanel youtube
Warga Ciamis perlihatkan cuplikan video Ridwan Saidi dalam chanel Youtube (Foto: Dadang Hermansyah/detikcom)
Ciamis -

Warga Ciamis digegerkan oleh pernyataan Budayawan Betawi Ridwan Saidi. Dalam channel Youtube Macan Idealis, Ridwan Saidi menyinggung sejarah Kerajaan di Ciamis. Salah satu pertanyaan Babe Saidi menyebut Galuh artinya brutal. Selain itu dia juga menyebut bahwa di Ciamis tak ada kerajaan.

"Saya mohon maaf dengan saudara dari Ciamis. Di Ciamis itu nggak ada kerajaan, karena indikator eksistensi kerajaan itu adalah indikator ekonomi, Ciamis penghasilannya apa? Pelabuhannya kan di selatan bukan pelabuhan niaga, sama dengan pelabuhan kita di teluk bayur, bagaimana membiayai kerajaan. Lalu diceritakanlah ada kerajaan Sunda Galuh. Sunda galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena galuh artinya brutal, saya yakin tidak ada peristiwa Diah Pitaloka, wanita Sunda Galuh itu dipanggul-panggul dibawa ke Hayam Wuruk untuk dikawinin. Itu yang dikatakan perang bubat, sedangkan bubat itu artinya lapang olahraga bukan nama tempat. Jadi di bubat mana dia perang. Juga di indonesia tidak ada adat perempuan mau kawin dijungjung-jungjung dianterin ke rumah lelaki itu kagak ada, itu tidak Indonesia," kata Babe Saidi dalam channel Youtube Macan Idealis yang diunggah pada 12 Februari 2020 itu.

Pernyataan tersebut membuat sejumlah kalangan di Ciamis geram, dari Budayawan, akademisi hingga para pemuda turut bereaksi. Tak terima dengan Galuh diartikan Brutal. Sejumlah postingan status di media sosial facebook di Ciamis juga ramai membicarakan hal itu.

Seperti Budayawan Ciamis, Aip Saripudin mengaku kaget dengan pernyataan Babe Saidi. Menurutnya, sejarah Galuh memiliki data yang valid. Salah satu bukti adanya Situs Ciung Wanara Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing yang merupakan bekas Kerajaan Galuh. Juga Situs Astana Gede Kawali tempat beberapa prasasti ditemukan.

"Bukti-bukti yang ada di Ciamis sudah diakui oleh para peneliti, karena itu pendapat beliau ini sangat tidak patut untuk disampaikan," kata Aip, saat dihbungi Kamis (13/2/2020).

Rektor Universitas Galuh yang juga Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis Yat Rospia Brata bahkan menantang Ridwan Saidi untuk datang ke Kabupaten Ciamis membuktikan sejarah. Dia sangat menyayangkan pernyataan Ridwan Saidi yang mengartikan Galuh adalah brutal dan menyatakan tidak ada kerajaan di Ciamis.

"Kalau mau bikin halusinasi jangan di rekam. Ngobrolnya berdua saja sama hostnya itu. kasian nantinya akan bahaya untuk bapak sendiri. Saya tunggu di Ciamis kami akan datangkan para kabuyutan untuk memperlihatkan bukti bukti sejarah," kata Yat.

Reaksi keberatan juga datang dari para pemuda Ciamis yang juga suporter sepakbola PSGC Ciamis, Sekjen Balad Galuh Triana Megandara mengatakan pernyataan Ridwan Saidi menyebut Galuh artinya brutal tak berdasar. Ia mempertanyakan kamus yang digunakan dalam mengartikan kata galuh itu.

Triana sebagai anak muda Ciamis mengaku bangga menyandang nama Galuh. Sehingga wajar saja banyak kalangan yang emosi ketika kata Galuh diartikan brutal. Ia menilai pernyataan Ridwan Saidi sangat menyakitkan.

"Nama Galuh yang identik dengan Kabupaten Ciamis tidak serta merta ada begitu saja. Tapi berdasarkan sejarah yang sudah diteliti oleh berbagai pihak. Jika dianggap palsu, maka Saidi sudah menyepelekan sejarawan dan ilmu pengetahuan," jelas dia.

Bukti-bukti peninggalan galuh ada dan bisa dilihat jejak-jejaknya. Ia meminta Ridwan Saidi harus datang ke Ciamis dan melihat sendiri peninggalan kerajaan Galuh di Ciamis.

(mso/mso)