Komentar Warga Soal Rencana Sanksi Derek Kendaraan yang Parkir Liar

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 12 Feb 2020 19:53 WIB
Mobil Parkir di Trotoar Jalan Tamansari Bandung
Mobil parkir di atas trotoar Jalan Tamansari Bandung (Foto: Mochamad Solehudin/detikcom)
Bandung -

Pemerintah Kota Bandung tengah menggodok rancangan peraturan daerah (raperda) derek kendaraan yang parkir sembarangan. Lalu seperti apa reaksi warga mengenai aturan tersebut?

Tirza Putri (29), warga Kecamatan Sukasari, mendukung rencana tersebut. Namun, menurutnya aturan ini jangan hanya terbatas di jalur utama kota. Sebab, tak jarang kemacetan akibat parkir liar juga terjadi di jalur-jalur arteri.

"Sok aja didenda, tapi harus rata semua jalan. Jangan hanya jalan utama, seperti mobil yang parkir di pinggir jalan rumah, tapi enggak punya garasi," kata Tirza kepada detikcom, Rabu (12/2/2020).

Dia meminta agar petugas yang melakukan penindakan benar-benar bisa bersikap tegas. Jangan sampai ada main mata dengan para pelanggar apabila aturan ini jadi diterapkan atau disahkan.

"Jangan sampai ada oknum yang 'bisa dibantu di tempat', jangan jadi ladang korup," ujarnya.

Sama halnya dengan Rian (30), warga Gegerkalong, turut mendukung rencana Pemkot Bandung tersebut. "Paling kerasa macetnya di Sukajadi sama Setiabudi, di depan Enhai dan Gerbang UPI atas," ucap Rian.

Sementara itu, Dias (27), warga Dago meminta agar Pemkot Bandung tak langsung menderek mobil yang terparkir liar begitu saja.m"Misal kalau durasinya hanya 10 menit maksimal ada batas toleransi, atau kalau mobilnya ternyata mogok, sehingga terpaksa harus diparkir di sana, ya sebaiknya bijak saja ya," ucap Dias.

Zikrie (29) warga Sukajadi mengatakan biasanya aktivitas lalu lintas terhambat saat melaju di daerah Tamansari, tepatnya di depan kantor Diskominfo. Dia juga sering menemukan banyak kendaraan yang parkir di atas trotoar jalan tersebut.

"Di sepanjang jalan Tamansari yang sebelah Bandung Zoo banyak parkir liar," katanya.

Dia mengaku pernah melakukan pengaduan kepada Dishub terkait parkir liar di Tamansari lewat IG, namun tak ada reaksi apapun. "Mudah-mudahan kalau begini bisa segera diselesaikan," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Pengendalian dan Ketertiban Transportasi Dinas Perhubungan Kota Bandung Asep Kuswara mengatakan, aturan ini disiapkan untuk memberikan efek jera.

"Untuk kendaraan roda dua, pelanggar harus membayar denda Rp 245 ribu sekali tindakan dan biaya inap Rp 136 ribu per malamnya," kata Asep di Balai Kota Bandung, Rabu (12/2/2020).

Sementara, untuk roda empat dua kali lipat dari denda yang diberikan jauh lebih mahal. Sementara kendaraan seperti truk pelanggar harus membayar denda mencapai Rp 1 juta.

"Roda empat, pelanggar harus membayar denda Rp 525 ribu sekali tindakan dan biaya inap Rp 304 ribu per malam. Sedangkan untuk kendaraan lebih dari roda empat, pelanggar harus membayar Rp 1 juta satu kali tindakan," katanya.

Dia menegaskan, sanksi berupa denda yang diberikan pelanggar akan diawasi secara transparan. Pihaknya tidak mengambil keuntungan dalam penerapan sanksi tersebut.

"Kami tidak mengambil keuntungan. Karena semua denda dibayarkan melalui bank agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan," ucapnya.

(mso/mso)