Hari Pers Nasional, AJI: Kekerasan Terhadap Jurnalis Marak di Jabar

Yudha Maulana - detikNews
Minggu, 09 Feb 2020 19:51 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
(Foto: Ilustrasi pengeroyokan (dok detikcom)
Bandung -

Kekerasan terhadap jurnalis masih marak terjadi. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung mencatat ada 7 kasus kekerasan yang menimpa insan pers di Jabar, tiga di antaranya terjadi di Kota Bandung.

Kasus yang paling membekas adalah tindakan kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepada jurnalis Tempo Prima Mulia dan jurnalis paruh waktu Iqbal Kusumadireja.

Saat itu, Prima dan Iqbal tengah meliput aksi unjuk rasa dalam peringatan Hari Buruh Internasional di sekitar wilayah Monumen Perjuangan, Kota Bandung.

Mereka melihat aparat tengah memukul mundur kawanan berbaju hitam. Seketika, insting jurnalis membuat mereka segera mendekati kerumunan dan membidikan mata kamera ke arah keributan.

Namun, hal itu malah berujung penganiayaan yang dilakukan oleh oknum aparat. Reza mendapatkan tendangan di lutut dan tulang kering hingga memar, kameranya dirampas dan foto yang diabadikannya dihapus.

Sementara Prima, hanya mendapatkan intimidasi dari tiga orang polisi tak berseragam. Kasus ini, sudah dilaporkan ke Propam Polrestabes Bandung, namun belum jelas penyelesaiannya.

Koordinator Divisi Advokasi AJI Bandung, Iqbal Tawakal Lazuardi mengatakan, tidak ada perkembangan yang signifikan terkait kasus ini.

"Polisi nampak tidak memprioritaskan kasus ini diselesaikan. Sudah hampir satu tahun kasus ini ngambang di Propam Polrestabes Bandung," kata Iqbal saat dihubungi wartawan, Minggu (9/2/2020).

"Terakhir masih tahap penyelidikan sekitar Agustus 2019. Belum ada perkembangan lagi. Pada penyelidikan terakhir kita nunjukin bukti baru. Berupa foto terduga pelaku untuk kasus Reza. Pelakunya pakai seragam tim Prabu. Khusus kasus yang menimpa Prima bahkan sama sekali belum ada perkembangan," kata Iqbal melanjutkan.

Menurut Iqbal, kekerasan terhadap jurnalis itu, kebanyakan dilakukan oleh oknum aparat keamanan. Selain aparat, Ormas dan aparat pemerintah juga pernah terlibat melakukan kekerasan.

"Hal itu menandakan bahwa penegak hukum khususnya di Kota Bandung belum memiliki perspektif mengenai kebebasan pers. Di sisi lain, (oknum) polisi menjadi salah satu pelaku yang paling banyak melakukan kekerasan terhadap wartawan," ucapnya.

(mud/mud)