Penambangan Batu di Gunung Pasir Pogor Cianjur Ancam 50 Rumah Warga

Ismet Selamet - detikNews
Selasa, 04 Feb 2020 15:25 WIB
Tebing Gunung Pasir Pogor di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur dieksploitasi sehingga mengancam pemukiman warga di bawahnya
Tebing Gunung Pasir Pogor di Kabupaten Cianjur rusak akibat aktivitas pertambangan. (Ismet Selamet/detikcom)
Cianjur -

Puluhan rumah di Kampung Rawagede, Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terancam terkena longsor akibat adanya aktivitas tambang batu di Gunung Pasir Pogor di desa tersebut. Tidak hanya terancam longsor, sumber mata air warga untuk kebutuhan sehari-hari juga menjadi keruh dan tak bisa dimanfaatkan.

Saepudin, salah seorang warga yang juga pimpinan yayasan pendidikan di Kampung Rawagede, Desa Cimenteng, mengaku sudah mengeluhkan aktivitas galian batu di Gunung Pasir Pogor sejak sebulan lalu. Pasalnya, lokasi galian C tersebut berada dekat dengan permukiman warga. Bahkan jarak tebing galian dengan rumah warga kurang dari 100 meter. Kondisi itu menyebabkan 50 rumah di desa tersebut terancam terkena longsor.

"Yang kami khawatirkan awalnya soal sumber mata air kami yang jadi keruh karena aktivitas tambang batu di sana. Tapi ternyata aktivitasnya semakin luas dan membuat warga terancam longsoran tanah dan batu dari tebing itu," kata Saepudin, Selasa (4/2/2020).

Dia bersama warga lainnya mendesak agar aktivitas tambang di Gunung Pasir Pogor dihentikan. Kondisi gunung juga harus dikembalikan dan ditanami pohon agar tidak menyebabkan longsor, terutama saat musim hujan.

Sementara itu, Penjabat Sementara Kepala Desa Cimenteng Rudiana Nasusa mengatakan aktivitas tambang di Gunung Pasir Pogor yang dilakukan PT Watu itu dipastikan tidak berizin. Dia menyebut perusahaan tersebut hanya memiliki izin pertambangan pada area depan Gunung Pasir Pogor, bukan bagian belakang yang mengarah ke permukiman.

"Izinnya juga habis pada 2018, dan belum ada perpanjangan," kata Rudiana saat ditemui di kantornya.

Dia mengaku pemerintah desa sudah mendatangi pihak perusahaan dan menanyakan terkait aktivitas pertambangan di bagian gunung yang mengarah ke permukiman. "Mereka bilangnya ini hanya untuk ngambil sampel batu alam, tapi ngambil sampel masa sampai berbulan-bulan, dengan luas lahan yang sudah ditambah mencapai setengah hektare. Itu sempat kami pertanyakan kepada pihak perusahaan," tuturnya.

Dia menegaskan pemerintah desa sudah meminta pihak perusahaan menghentikan aktivitasnya. Selain itu, pihaknya meminta perusahaan mengembalikan kondisi alam yang dirusak.

"Untuk aktivitas sudah dihentikan, tapi kami juga meminta agar lahannya kembali ditanami pohon, sehingga tidak berpotensi mengakibatkan bencana. Apalagi ini musim hujan. Sumber air warga juga sudah kami minta agar dijernihkan lagi," ujarnya.

Simak Video "Sensasi Makan Malam di Tambang Batu Bara"

[Gambas:Video 20detik]

(mso/bbn)