Sidang Perdana Meninggalnya Ipda Erwin, 5 Terdakwa Diancam 12 Tahun Penjara

Ismet Selamet - detikNews
Rabu, 22 Jan 2020 14:02 WIB
Foto: Ismet Selamet
Cianjur - Pengadilan Negeri Cianjur menggelar sidang perdana kasus meningggalnya Ipda Erwin Yuda Wildani yang terbakar saat unjuk rasa mahasiswa di depan Kantor Pemkab Cianjur, 15 Agustus 2019.

Sidang perdana dengan agenda dakwaan dan eksepsi lima terdakwa berinisial R, OZ, AB, MF dan RR yang digelar di ruang Sidang Tirta itu, dipimpin Hakim Ketua Glorious Anggundoro, Hakim Anggota Patti Arimbi, dan Hakim Anggota Dicky Wahyudi.

Sidang berlangsung sekitar dua jam, yakni dimulai pada pukul 10.00 Wib hingga pukul 12.00 Wib. Selama proses persidangan, tampak anggota kepolisian berjaga di dan dan di luar ruangan persidangan.

Tampak hadir juga keluarga dari almarhum Ipda Erwin dan keluarga dari para terdakwa.

Usai sidang, terpantau orangtua dari para terdakwa menangis histeris ketika anak-anaknya dinaikkan ke mobil tahanan. Bahkan ada juga yang harus digotong lantaran hampir pingsan.

Jaksa Penuntut Umum Slamet Santoso mengatakan, kelima terdakwa yang masih berstatus sebagai mahasiswa tersebut didakwa dengan pasal 214 dan 170 KUHP. Dengan ancaman hukuman maksimal 9 dan 12 tahun penjara.

"Nanti dalam fakta persidangan akan dibuktikan, peran dari masing-masing pelaku, dengan dakwaan yang sudah disebutkan tersebut," kata dia usai sidang di Pengadilan Negeri Cianjur di Jalan Dr Muwardi, Rabu (22/1/2020).

Menurutnya sidang berikutnya digelar pada Rabu depan dengan agenda tanggapan atas eksepsi kuasa hukum terdakwa. Kalau saksi-saksi masih beberapa agenda berikutnya, yang minggu depan tanggapan dari kami atas eksepsi," ungkap Slamet.

Sementara itu, Kuasa Hukum Terdakwa Iwan Permana, mengatakan pihaknya mengajukan eksepsi atau keberatan atas dakwaan jaksa penuntut umum, di mana beberapa pasal dinilai tidak sesuai.

Iwan juga menyebutkan dakwaannya cacat hukum dan tidak menggunakan sistematika dakwaan dan tata cara yang diamanatkan hukum acara pidana.

"Ada beberapa pasal yang dikumulatif, padahal harusnya dibeda-bedakan. Selain itu Jaksa harusnya gunakan pasal yang terberat, bukan kumulatif," kata Iwa.



Simak Juga Video "Video Eks Aspidum Kejati DKI Dituntut 6 Tahun Penjara"

[Gambas:Video 20detik]

(ern/ern)