Tingkat Pendidikan di Sumedang Masih Rendah, Bupati: Sampai Kelas II SMP

Muhamad Rizal - detikNews
Rabu, 15 Jan 2020 17:10 WIB
Foto: Mukhlis Dinillah/detikcom
Sumedang - Tingkat pendidikan masyarakat Kabupaten Sumedang masih terbilang rendah. Sampai saat ini rata-rata lama sekolah warga Sumedang hanya baru sampai kelas dua SMP.

"Ternyata orang Sumedang ini sekolah itu sampai kelas dua SMP," kata Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat ditemui di Islamic Centre, Jalan Kutamaya, Kabupaten Sumedang, Rabu (15/1/2020).

Dia berkomitmen terus meningkatkan kualitas dan tingkat pendidikan warganya. Salah satu cara yang disiapkan adalah dengan cara pendidikan dasar 12 tahun.

"Kami sampaikan, yang butuh sekolah kami data agar mau sekolah dan menempuh pendidikan yang lebih baik lagi," katanya.


Selain itu, pihaknya akan mendorong warganya mengikuti berbagai program pendidikan. Seperti melalui pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C. "Ada Paket B dan Paket C bagi orang tua yang hanya lulusan SD agar dapat memotivasi orang untuk ingin belajar," ucapnya.

Dony melanjutkan ada banyak faktor yang menyebabkan warga Sumedang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, mulai masalah ekonomi hingga masalah lainnya. "Untuk masalah biaya, tidak ada kendala lagi untuk yang tidak mampu. Tinggal kemauan kita untuk ingin belajar," tutur Dony.

Pihaknya akan terus berupaya agar warga Sumedang memiliki motivasi untuk mau belajar. Hal itu penting agar tingkat pendidikan warga Kabupaten Sumedang bisa lebih baik lagi. "Memberikan motivasi kepada masyarakat agar mau dan berkeinginan untuk belajar," tegas Dony


Sementara itu, menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Agus Wahidin, masalah pendidikan di Sumedang rata-rata lamanya sekolah 8,02 tahun dengan target naik menjadi 0,3 tahun per tahunnya. "Sehingga 2023 rata-rata lama sekolah menjadi 9 tahun, dari SMP kelas dua menjadi tamat SMP," kata Agus

Agus akan meningkatkan bagaimana agar anak-anak tidak putus sekolah hingga mendapatkan pendidikan dasar hingga SMP. "Dengan cara berbagai kerja sama dengan kepala desa dengan strategi afirmasi bagaimana agar anak-anak di pinggiran untuk mendaftarkan anak-anak yang tadinya tidak mau dan tidak mampu untuk sekolah," ujarnya. (mso/mso)