Round-up

Iwa Karniwa Diguyur Rp 900 Juta oleh Meikarta untuk Pilgub Jabar

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Selasa, 14 Jan 2020 10:34 WIB
Foto: Ari Saputra
Bandung - Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Iwa Karniwa diguyur duit hingga Rp 900 juta berkaitan proyek Meikarta. Uang itu digunakan Iwa untuk pencalonannya sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat pada Pilgub Jabar 2018 lalu.

Duit ratusan juta dari PT Lippo Cikarang melalui PT Mahkota Sentosa Utama selaku pengembang proyek Meikarta itu terungkap dalam dakwaan yang dibacakan jaksa KPK pada Senin (13/1) kemarin. Iwa duduk sebagai terdakwa dalam kasus ini.

Uang dari PT Lippo itu diberikan secara berjenjang melalui Neneng Rahmi Nurlaili yang saat itu menjabat Kabid Penataan Ruang Dinas PUPR Bekasi, Henri Lincoln selaku Sekretaris Dinas PUPR Bekasi, Soleman anggota DPRD Bekasi dan Waras Wasisto anggota DPRD Jabar. Uang itu diberikan berkaitan percepatan pengesahan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi guna kepentingan proyek Meikarta.

"Perbuatan terdakwa menerima sejumlah uang Rp 900 juta melalui Satriadi, Neneng Rahmi Nurlaili, Henri Lincoln, Soleman dan Waras Wasisto yang bersumber dari PT Lippo Cikarang tbk melalui PT Mahkota Sentosa Utama selaku pengembang pembangunan Meikarta," ucap jaksa KPK saat membacakan dakwaan.

Pemberian terhadap Iwa dilakukan dalam tiga tahapan. Pemberian itu diawali perkenalan antara Neneng Rahmi dan Iwa yang difasilitasi Soleman dan Waras. Neneng meminta difasilitasi bertemu dengan Iwa berkaitan dengan pengesahan RDTR yang diurus di Pemprov Jabar.

Pertemuan itupun terwujud di rest area kilometer 72 Tol Cipularang. Saat bertemu dengan Iwa, mereka menyampaikan permohonan bantuan proses persetujuan substansi RDTR ke Gubernur Jawa Barat.

Setelah pertemuan tersebut, Iwa meminta kepada Waras Wasisto menyampaikan kepada Neneng Rahmi Nurlaili agar menyediakan uang sejumlah Rp 1 miliar guna persiapan terdakwa maju sebagai bakal calon Gubernur Jabar.

"Mendengar penyampaian terdakwa, Soleman dan Waras kemudian menyampaikan kepada Henri Lincoln dan Neneng Rahmi Nurlaili sembari menyampaikan permintaan terdakwa Rp 1 miliar adalah murah, biasanya Rp 3 miliar," kata Jaksa.