Perjuangan Dewi, Guru Difabel di Pelosok Cianjur

Ismet Selamet - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 18:16 WIB
Perjuangan Dewi, guru honorer asal Kabupaten Cianjur (Ismet Selamet/detikcom).
Cianjur - Kekurangan fisik tak menyurutkan semangat Dewi Suryani (40), seorang guru di Kabupaten Cianjur, untuk mengajar. Penyandang disabilitas tunadaksa ini harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk tiba di tempatnya mengajar.

Pengabdiannya sebagai guru diawali sejak 2007. Awalnya, Dewi menjadi guru honorer di salah satu SMP di Kecamatan Cidaun. Kemudian, pada pertengahan 2018, guru 'super' ini mengajar puluhan siswa kelas jauh SDN Jaya Harapan di Kampung Cigedong, Desa Karyabakti, Kecamatan Cidaun.

Dengan kondisi kaki kanan yang lebih kecil dibanding kaki sebelah kiri, yang dialami sejak lahir, Dewi harus berjalan kaki selama 1,5 jam dengan jarak lebih-kurang 6 kilometer dari rumahnya di Kampung Asisor menuju SDN Jaya Harapan tempatnya mengajar.



Jalan berbatu dan tanah merah menjadi pijakan dalam setiap langkah Dewi menuju sekolah tempatnya mengajar. Di musim hujan, lumpur dan genangan air tak menyurutkan langkahnya demi mencerdaskan anak-anak di wilayah pelosok Cianjur itu.

Hal itu ia lakukan setiap hari karena di kelas jauh itu hanya dia yang mengajar. Meski pada Kamis dan Sabtu ada warga yang membantunya mengajar, tetap dialah yang menjadi guru utama di kelas jauh tersebut.

"Setiap hari saya harus berjalan kaki. Kalau musim hujan begini kadang alas kaki dibuka. Soalnya, jalanannya berlumpur. Daripada rok dan sepatu kotor, lebih baik berjalan tanpa alas kaki, bareng dengan beberapa siswa," ucap dia kepada detikcom di Kecamatan Cidaun, Selasa (7/1/2020).


Upah yang diterima guru honorer itu ternyata tak sebanding dengan perjuangannya. Setiap tiga bulan dia mendapat total bayaran sekitar Rp 1 juta. Hanya, honor tersebut dia bagi dua dengan seorang warga yang kerap membantunya mengajar.

"Sebenarnya dapat itu Rp 1 juta per tiga bulan, tapi dibagi dua dengan salah seorang warga yang membantu saya mengajar di kelas jauh SDN Jaya Harapan. Jadi dapatnya Rp 500 ribu per tiga bulan. Pastinya tidak cukup, makanya untuk tambah-tambah saya bertani," ungkap Dewi.

Rasa lelah kerap ia rasakan dalam menjalani profesinya selama ini. Tetapi melihat semangat siswa dan orang tua yang menyekolahkan anaknya, Dewi terus terpacu tetap mengajar.

"Selama masih ada anak yang ingin belajar, saya tidak akan berhenti menjadi guru, meski dengan keterbatasan fisik ini," ujarnya. (mso/mso)