Tujuh orang saksi, termasuk keluarga Nur diperiksa polisi. Petugas langsung membawa jasad Nur ke salah satu rumah sakit di Kota Bandung, Jawa Barat, untuk diautopsi. Hasilnya, Nur tewas akibat penyakit tuberkulosis kronis. Misteri kematian pelayan warteg pun terungkap.
"Ditemukan fakta bahwa barang berharga milik korban, seperti dompet, handphone, uang tunai dan motor masih dalam keadaan utuh. Faktor penyebab kematian almarhum adalah karena tuberkulosis kronis," kata Kapolresta Cirebon AKBP M Syahuddi kepada awak media saat pers rilis di Mapolresta Cirebon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (27/12/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Almarhum sempat mengalami pendarahan. Di bagian dapur dan ruang tengah kita temukan darah. Saat ditemukan juga banyak darah di bagian mulut dan hidung," katanya.
Di tempat yang sama, suami Nur, Waita (46) membenarkan tentang riwayat penyakit Nur. Menurut Waita, Nur menderita penyakit tuberkulosis sekitar empat tahun. Nur menolak untuk berobat.
"Pakainya obat warung saja. Menolak kalau diajak berobat," kata Waita.
Senada disampaikan Muhidin (43), kakak kandung Nur sekaligus pemilik warteg. "Ya sering mimisan dan batuk-batuk," kata Muhidin.
Nur juga kerap mengeluhkan rasa sakit pada bagian dada dan perut. Namun Nur selalu menolak saat diminta berobat. Saat kejadian, Nur inisiatif datang ke warteg. Saat itu, Warteg dalam kondisi sepi.
"Menolak (berobat) alasannya sayang sama uang, karena kepakai untuk kebutuhan lain. Pas kejadian kebetulan lagi sendiri, muntah darah di situ," kata Muhidin. (ern/Erna Mardiana)











































