Ujicoba Pengeboman Gunung Bohong untuk KA Cepat, Rumah Warga Rusak

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 27 Des 2019 15:11 WIB
Foto: Yudha Maulana
Bandung Barat - Tiga kali suara ledakan bom menggelegar di sekitar area terowongan 11 Kereta Cepat Jakarta-Bandung, tepatnya di Gunung Bohong, Desa Laksanamekar Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Jumat (27/12/2019) siang.

Ujicoba peledakan tersebut dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya dampak ledakan terhadap ratusan rumah di Kompleks Tipar Silih Asih yang berada di kaki Gunung Bohong.

Pengeboman pertama dilakukan pada pukul 09.15, pengeboman kedua dilakukan pukul 09.35, dan pengeboman ketiga dilakukan pukul 10.00.

Untuk mengukur kecepatan rambatan dari getaran yang timbul dari ledakan tersebut, peneliti LAPI ITB menggunakan minimate (pengukur getaran) yang dipasang dengan jarak 50 meter, 100 meter, 150 meter, dan 200 meter dari titik ledakan ke rumah warga.

"Iya kedengeran suaranya ada tiga kali. Terus rumah-rumah warga yang paling dekat juga kacanya bergetar," ujar Ketua RW 13, Ahmad M. Sutisna saat ditemui.
Ujicoba Pengeboman Gunung Bohong untuk KACepat, Rumah Warga RusakFoto: Yudha Maulana

Ahli Terowongan dan Geoteknik LAPI ITB Simon Heru Prasetyo mengatakan timnya menetapkan ambang batas 2 milimeter per detik untuk bangunan kelas satu.

Daya ledak pun dikurangi dengan menempatkan 1,4 kg bahan peledak tiap lubang.

"Setelah kita pantau trail blasting 3 kali, masing-masing ledakan ada 5 lubang yang diledakkan, jadi totalnya ada 15 lubang yang diledakan," ujar Simon didampingi Profesor Made Astawa Rai.

Dari jarak 50 meter dari titik ledakan, tercatat kecepatan rambatan dengan nilai 1,81 mm perdetik. "Masih di bawah ambang batas, pada 200 meter dari lokasi, tercatat 0 getaran, masih di bawah ambang batas SNI," kata Simon.

Kendati demikian, pihaknya masih akan terus mengkaji data yang didapatkan dari lapangan untuk memastikan aman atau tidaknya peledakan untuk pembangunan terowongan kereta cepat.

"Kita juga akan cek GPS, yang kami tanam satu meter dalam tanah. Kita lihat kemana pergerakannya setelah trail blasting ini," katanya.

Simon mengatakan, sedianya di dunia pertambangan, jarak aman antara pemukiman dan titik ledak adalah 500 meter dan 300 meter untuk alat berat.

"Tapi ini jaraknya dekat sekali dengan pemukiman, makanya kita akan kaji kembali untuk satu atau dua minggu ke depan," katanya.

Dari jarak 50 meter dari titik ledakan, tercatat kecepatan rambatan dengan nilai 1,81 mm perdetik. "Masih di bawah ambang batas, pada 200 meter dari lokasi, tercatat 0 getaran, masih di bawah ambang batas SNI," kata Simon.

Sementara itu pantauan rumah warga, dilaporkan beberapa rumah rusak. Seperti yang terjadi di rumah Acih (55) warga RT 4 RW 10 Kampung Tipar Timur, tembok dinding pintu rumahnya terkikis saat ledakan kedua di Gunung Bohong.

"Asalnya cuma retak-retak aja, sekarang sampai rontok lapisan dindingnya. Sengaja belum dibersihkan, biar kelihatan rusaknya, soalnya kemarin enggak ada," ujar Acih saat ditemui di rumahnya.

Acih dan warga terdampak lainnya, mengaku tak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya jika ada uji coba pengeboman oleh tim ahli dari ITB.

"Kalau warga itu enggak pernah dikasih tahu sama pengurus RT atau RW termasuk yang sekarang. Jadi warga di sini khawatir dan bingung juga," katanya.

Acih mengatakan, pihak PT. KCIC melalui subkontraktornya, PT. CREC, hanya memberikan kompensasi sebesar Rp 55 ribu setiap bulan.

"Sebulan itu semua warga di RW 10 hanya dikasih Rp 55 ribu dari perusahaan. Enggak mungkin cukup buat perbaikan kerusakan, jadi saya mengandalkan uang sendiri aja buat menambal kerusakan," ucapnya.



Tonton juga video Jalur KA Sukabumi-Bogor Longsor, Perjalanan Dibatalkan:

[Gambas:Video 20detik]



(ern/ern)