Kesaksian Horor Mahasiswa Unsika yang Selamat dari Gua Lele

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Kamis, 26 Des 2019 17:03 WIB
Ali (kaos biru) sebelum turun ke dalam gua/Foto: Istimewa
Karawang - Nur Ali (20), mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), menjadi salahsatu korban selamat banjir bandang Gua Lele. Ia menceritakan detik-detik mencekam disapu air dari segala penjuru saat berada dalam gua.

Saat musibah terjadi Minggu (22/12/2019) lalu, Ali dan tujuh temannya masuk dalam gua. Sementara tujuh teman lainnya berada di luar gua.

Ali dan dua kawannya ditunjuk sebagai penghubung antara tim darat dengan tim yang turun ke dasar gua. "Saya standby di pitch satu, kedalaman 15 meter. Bertugas menghubungkan informasi antara tim darat dengan tim eksplor yang turun jauh ke bawah. Makanya saya pegang radio HT," kata Ali.

Sementara itu, lima temannya sesama mahasiswa Unsika turun ke gua dengan kedalaman 30 meter. Kelimanya hendak menuju ruangan besar disebut aula gua. Di aula itu mengalir sungai bawah tanah. Untuk menuju ke sana, perlu melewati lorong kecil dan menyelam melewati cekungan dangkal.

Namun baru sekira setengah jam mereka sampai, gerimis turun. "Saya harus segera mengabari lima kawan yang turun ke dasar gua," kata Ali menceritakan apa yang ada di pikirannya saat itu.

Namun gerimis seketika berubah menjadi hujan lebat. Ali memegang tali dengan erat. Air deras muncul dari atas. Dari bawah terdengar suara air deras. Amukan air sungai bawah tanah. Lubang gua yang gelap dan lembab seperti berubah menjadi penuh air.

"Airnya deras sekali dari atas kepala. Kita seperti berada di dalam pipa air," kata mahasiswa asal Bekasi itu.

Setelah itu, kejadiannya serba cepat. Ali yang sudah memberi kabar bahaya pada lima kawannya sangat khawatir.
Ali mengaku tegang tak bisa membayangkan nasib lima rekannya di bawah sana. Saking derasnya hantaman air, Ali mengaku hanya bisa diam tak beranjak dari posisinya.

"Ke atas susah, ke bawah susah. Jadi saya putuskan menunggu saja sampai reda," tutur dia.

Setelah tiga puluh menit dihantam air, suara air pun perlahan reda. Sadar jika banjir mulai surut, ia memutuskan turun ke bawah untuk mengecek kondisi lima rekannya.

Di kedalaman 20 meter, ia menemukan Evo Rahmat Yulistiadi (21) mahasiswa Unsika asal Solok, Sumatera Barat. Tak lama kemudian disusul Dimas Rizki kurniawan (18) mahasiswa Unsika Karawang asal Jakarta.

"Mereka nampak kelelahan dan kepayahan," kenang Ali.

Adapun Erisya Rifania (20) mahasiswi Unsika asal Bogor, Alief Rindu Arrafah (18) mahasiswa Unsika asal Kabupaten Bogor, dan Ainan Fatmatuzzaroh (19) mahasiswa Unsika asal Kabupaten Banjarnegara tak terlihat.

"Saat dihantam gelombang besar dari sungai bawah tanah, kelimanya berpegangan tangan namun derasnya air membuat tangan mereka terlepas. Alhasil lima orang tercerai berai.
Erisya, Alief dan Ainan hilang entah ke mana," ungkap Ali.

Anggota tim yang selamat kemudian berpencar. Dimas bergegas naik ke atas untuk melaporkan situasi ke tim darat sekaligus mencari bantuan.

Sementara Ali turun ke bawah ikut mencari yang terjebak. "Saya menemukan Erisa sudah terkapar di sudut gua. Helmnya terlepas," ungkap Ali.

Ia kemudian memeriksa denyut nadi mahasiswi tersebut. Lantaran tak juga sadar, Ali memberikan nafas buatan dan oksigen. "Saya terus berusaha memacu denyut jantungnya," kata Ali.

Beberapa saat kemudian, tim darat turun memberi pertolongan. Tak lama kemudian, tubuh Alief dan Ainan terlihat terkapar. Helm mereka terlepas. "Denyut nadi mereka tak terasa," ujar Ali.

Jenazah Erisa, Alief dan Ainan berhasil dievakuasi keesokan harinya oleh tim SAR gabungan. Celah gua yang kecil mengakibatkan ketiga jenazah baru berhasil dievakuasi setelah 12 jam.

Simak Video "3 Mahasiswa Unsika Tewas Setelah 12 Jam Terjebak di Gua"

[Gambas:Video 20detik]

(ern/ern)