Dua Suami-Istri di Cianjur Jadi Rival di Pilkades Serentak 2020

Ismet Selamet - detikNews
Jumat, 20 Des 2019 16:53 WIB
(Foto: Ismet Slamet) Calon Kepala Desa Cikondang Kecamatan Cibeber, Yana Mulyana dan istrinya, Whida Ningsih mencalonkan diri dalam Pilkades Cikondang.
Cianjur - Dua pasangan suami-istri bakal bersaing dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Cianjur. Tidak adanya rival lain menjadi alasan dua pasangan suami istri itu maju dalam pemilihan yang digelar 23 Februari 2020.

Dua desa di Cianjur yang bakal calonnya merupakan pasangan suami istri yakni Desa Cibadak, Kecamatan Sukaresmi dan Desa Cikondang, Kecamatan Cibeber.

Calon Kepala Desa Cibadak, Dedi Lauhil Faris mengakui jika dia mencalonkan dirinya kembali sebagai kepala desa dan mendaftarkan istrinya, Dwi Astuti untuk menjadi rival dalam Pilkades di desanya.

"Saya daftar dengan istri pada 14 Desember 2019. Penyerahan berkasnya juga bersamaan," ujar dia, Jumat (20/12/2019).


Tidak adanya rival lain hingga akhir pendaftaran membuat dia mendaftarkan istrinya sebagai calon kepala desa. Sebab jika hanya ada satu calon, kemungkinan akan dilakukan pendaftaran gelombang pertama dan kedua.

Bahkan jika tak kunjung ada calon lain, pelaksanaan Pilkades di desanya akan ditunda hingga Pilkades serentak 2022.

"Daripada ditunda, sayang dua tahun pemerintahan tanpa kepala desa definitif, lebih baik tetap dilaksanakan tahun ini. Dan saya daftarkan istri saya," kata dia.

Dia mengungkapkan, untuk tokoh di Desa Cibadak yang berniat mendaftar kemungkinan banyak, tetapi hingga akhir pendaftaran hanya dia dan istrinya yang sudah menyerahkan berkas.

"Tapi mungkin karena dalam kepemimpinan saya di periode sebelumnya sudah baik, dan dalam pengelolaan anggaran desa transfaran, sehingga mereka segan untuk mendaftar," terangnya.


Kondisi yang sama juga terjadi di Desa Cikondang. Kepala Desa Cikondang Yana Mulyana yang kembali maju di Pilkades 2020 turut mendaftarkan istrinya Whida Ningsih untuk menjadi pesaingnya.

Namun, dia mendaftar lebih awal yakni pada 6 Desember, sedangkan istrinya baru mendaftar pada 14 Desember.

"Tadinya berharap ada tokoh lain yang ikut mendaftar. Sayangnya sampai hari terakhir tidak ada yang daftar. Setelah diskusi dengan istri saya dan meminta pendapat dari para tokoh, solusinya istri saya yang didaftarkan untuk memenuhi kuota minimal jumlah calon dalam Pilkades, yakni dua orang calon," ungkapnya.

Dalam pelaksanaan kampanye nantinya, dia memilih untuk berkampanye bersamaan dengan sang istri. Apalagi visi dan misi keduanya sama, yakni membuat Desa Cikondang berakhlak, gesit, dan mandiri.

"Kemungkinan bareng kampanyenya, di lokasi yang sama. Saling mendengarkan keinginan masyarakat," tuturnya.


Dia menambahkan, jika dalam hasil pemilihan nantinya malah istrinya yang menang, dia mengaku tidak masalah. Sebab terpenting bisa membuat Cikondang lebih baik ke depannya.

"Mau saya atau istri yang menang nanti, itu kehendak Tuhan. Sudah jadi takdirnya siapapun yang terpilih," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cianjur, Ahmad Danial, mengatakan, tidak ada larangan suami istri mencalonkan diri dalam Pilkades serentak 2020, terpenting jumlah calon yang ada bisa terisi minimal dua orang dan maksimal lima orang.

Dia menambahkan, Pilkades serentak di Cianjur yang akan diikuti oleh 248 desa.

"Tidak masalah, diperbolehkan suami-istri mencalonkan. Yang penting minimal ada dua orang. Kalau satu orang kan nanti ada perpanjangan pendaftaran, dan kalau terus tidak ada makanan ditunda sampai 2022. Sedangkan jika lebih dari lima dilakukan seleksi lanjutan agar calon menjadi lima," jelasnya. (mso/mso)