Teror Ular Kobra di Jabar, Sioux Ular Indonesia: Fenomena Mudik

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 15 Des 2019 16:20 WIB
Foto: dok. Warga Villa Citayam
Bandung - Puluhan anak ular kobra masuk ke pemukiman warga. Kejadian ini terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Barat di antaranya di Citayam Bogor, perumahan di Sukabumi dan pemukiman di Purwakarta.

Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rachmat mengatakan, fenomena temuan ular di kawasan hunian bukan hal yang di luar kebiasaan. Kejadian ini sangat alamiah natural dan logis (bukan mistis). Aji menyebut, ular-ular tersebut sedang mudik.

"Mudik? Iya, lha wong sebelum jadi kluster dan perumahan berdiri apik gitu kan tadinya rawa, tanah hutan dan kebun terbuka yang jadi habitat ular beserta mangsanya. Ekosistem masih seimbang dengan ketersediaan mangsa dan predatornya," katanya via pesan singkat, Minggu (15/12/2019).

Lalu, kenapa sekarang banyak ular masuk hunian manusia? Ini enam alasan versi Yayasan Sioux Ular Indonesia.


Satu, ular memang satwa liar yang habitatnya paling dekat dengan manusia. Ada ular berarti ekosistem di sekitar hunian masih bagus dan normal. "Justru jika tidak ada ular, bersiaplah ledakan populasi hama dimana-mana," ujarnya.

Kedua, induk ular bertelur tidak membuat sarang, tetapi memanfaatkan lubang-lubang sembunyi dan celah-celah terlindungi yang tak pernah di jamah predator atau manusia. "Secara insting, induk ular akan meletakkan telur di kawasan yang tersedia berlimpah makanan ular sehingga saat telur menetas, si anak dengan mudah mendapatkan makanannya," ungkapnya.

Ketiga, Habitat ular di huni oleh manusia. Kawasan rawa habitan ular tersebut diperkecil untuk dibangun kluster perumahan dan jalanan. "Tak hanya ular, mangsanya pun semakin terdesak. Pada akhirnya berkumpulah mangsa-mangsa ular ini di area pemukiman. Kadal, tikus, kodok, katak, cicak, burung sekarang hanya ada di sekitar pemukiman. Sehingga ular pun mendekat ke sana," jelasnya.

Keempat, ular bukan tipe satwa yang berkelompok seperti kijang, tapi tipe soliter atau hidup sendiri. Ular tidak menyusui sehingga tidak hidup bersama induknya. Setelah lahir atau menetas, si ular sudah mandiri, cari makan dan cari tempat sembunyi sendiri. "Sehingga saat ditemukan anak ular di perumahan, akan tidak mungkin mencari induknya di sana. Si induk udah pergi tiga bulan lalu saat usai bertelur, dia tinggalkan telurnya di lubang tertentu dan tidak dierami," tuturnya.


Kelima, ular jenis atau spesies apapun (ada 346 spesies di Indonesia) adalah satwa yang paling pintar sembunyi. Insting dia hanya cari makan dan cari tempat sembunyi. Kebetulan jika di sudut komplek ada area yang jarang dijamah dan dibersihkan, dia akan betah berkeliling disana berburu mangsa. "Tapi ular tidak membuat sarang seperti burung, setelah keluar lubang, dia tidak balik lagi ke lubang yang sama atau jika terjadi maka itu hanya kebetulan," sebutnya.

Enam, ular tidak bisa memilih nama tempat. Di mana pun dia nyaman dan ada mangsanya, ular akan betah. "Terlepas itu di tepi sungai, hutan, kebun, halaman rumah, bahkan di area area industri banyak ditemukan ular beraktivitas," katanya.

Tips Mengurangi Populasi Ular di Pemukiman

Aji menerangkan, ular-ular yang sedang viral di beberapa perumahan ini, sedang mudik ke area nenek moyangnya mencari mangsa di sana fan semakin ke depan, konflik ular dengan manusia ini tidak semakin reda tapi justru akan semakin tinggi frekuensinya.

Lalu, tips seperti apa untuk mengurangi populasi ular di pemukiman warga, tanpa membununya?

"Gotong royong bersihkan area yang tidak tertata dan jarang dijamah, tumpukan material dan kebun tak terawat menjadi tempat nyaman bagi ular untuk sembunyi. Rumah kosong di semprot dengan fogging nyamuk secara berkala agar satwa di dalam tidak betah dan berpindah," ujarnya.

Selain itu, kita juga bisa pasang jaring besi di saluran irigasi akses keluar masuk. Pohon-pohon di atas pagar dibersihkan dari akses luar, lubang di pagar kompleks ditutup, pasang pest trap untuk jebakan tikus, tikus adalah mangsa utama ular sehingga jika tikus berkurang, ular akan bergeser atau putus rantai makanan ular di kawasan hunian.

"Bagi yang memelihara burung, selalu cek akses dengan lingkungan karena burung juga makanan ular. Tidak perlu menebar garam, karena ular tidak takut garam. Tidak perlu menggunakan tali ijuk karena ular tidak sakit jika lewat ijuk, tetap lolos. Jika menemukan ular hati-hati dalam menangani (snake handling) sebaiknya dilakukan oleh orang yang terlatih," jelasnya.

"Disarankan cukup foto atau amati gerakan ularnya kemana. Lalu kirim ke group snake handler atau Snake Rescue atau Pemadam Kebakaran agar dibantu evakuasi dengan mengirim tim dan pahami katakter dan tingkah laku ular dan juga pahami manfaat serta bahayanya agar kita nyaman bertetangga dengan ular," pungkasnya. (mud/mud)