Polisi Periksa Saksi Jatuhnya AKBP Andi Nurwandi di Tebing Parang Purwakarta

Dian Firmansyah - detikNews
Minggu, 15 Des 2019 12:55 WIB
Foto: (Ridwan Arifin Mojjins/d'Traveler) Gunung Parang
Purwakarta - Polisi mendalami insiden jatuhnya AKBP Andi Nurwandi di Tebing Parang Purwakarta. Polres Purwakarta melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa saksi.

Olah TKP ini dilakukan untuk mengungkap secara pasti penyebab dan kronologis jatuhnya seorang pendaki di tempat Wisata Badega Gunung Parang, di Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta.

"Sementara sudah ada empat orang yang kita periksa dari pihak pengelola, tim kami (satreskrim) kini sedang melakukan oleh TKP di lokasi jatuhnya korban", ujar Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP Handreas Adrian kepada detikcom, Minggu (15/12/2019).

Adapun saksi-saksi yang sudah dilakukan pemeriksaan adalah :

a. Wawan Lukman Hidayat, 35 Tahun, Islam, Pekerjaan Swasta, Alamat Kp. Cihuni Rt.006/003 Ds. Sukamulya Kec. Tegalwaru Kab. Purwakarta (Pengelola Badega gunung Parang)

b. Acep Mika Haryanto, 23 Tahun, Islam, Mahasiswa, Kp. Tegal Miring Rt 006/002 Desa Sukamaju Kec. Sukatani Kab. Purwakarta (Pemandu Badega gunung parang).

c. Ahmad Kemal Bin Hasan, 14 Tahun, Pelajar, Alamat Kp. Cisarua Desa Sukamulya Kec. Tegal waru Kab. Purwakarta (Pemandu tambahan Badega gunung parang).

d. Baban Yuhana, 34 Tahun, Swasta, Kp. Cisarua Rt 003/002 Desa Sukamulya Kec. Tegal waru Kab Purwakarta (Admin Account Badega gunung parang).

Dari hasil pemeriksaan awal, korban tewas di tengah evakuasi korban ke klinik terdekat (klinik Aqma) dengan menggunakan mobil ambulance milik desa setempat.


"Sebelum evakuasi jantung korban masih berdetak, namun di tengah perjalanan korban meninggal dunia", ungkapnya.

Sedangkan menurut pengakuan para saksi, korban terjatuh diduga karena tergelincir di ketinggian 50 meter. Saat jatuh korban tengah melakukan penurunan namun di luar jalur.

Namun karena cuaca di sekitar gunung parang turun hujan, korban sempat istirahat, dan setelah reda korban bersama anak dan adiknya turun. Diduga korban tergelincir karena melakukan penurunan dengan teknik seperti repling.

"Setelah hujan reda korban turun pendakian dengan meniti anak tangga atau teknik via ferrata, namun di luar jalur dengan posisi mirip teknik repling, dan kemudian korban dari ketinggian 50 meter tergelincir jatuh di teras tebing setinggi 20 meter," jelasnya.

Sementara terkait dengan alat kelengkapan pendakian dan yang diduga tali seling putus, polisi masih mendalaminya."Kita masih mendalami terkait hal itu," ujar Handreas.


Tonton juga 11 Rumah di Purwakarta Rusak Diduga Akibat Proyek Kereta Cepat :

[Gambas:Video 20detik]

(mud/mud)