60 Jiwa Terisolasi Danau Lumpur di Cilangari Bandung Barat

Yudha Maulana - detikNews
Minggu, 08 Des 2019 20:27 WIB
60 jiwa di Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, terisolasi akibat munculnya danau lumpur. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
60 jiwa di Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, terisolasi akibat munculnya danau lumpur. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung Barat - Danau dadakan muncul di atas lahan persawahan warga Kampung Hegarmanah, Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, setelah hujan deras yang terjadi pada Jumat (6/12/2019) malam.

Ketinggian air mencapai lima meter, bercampur lumpur yang menyumbat aliran Sungai Cibuluh. Alhasil 4 hektare sawah siap panen terendam oleh danau dadakan ini.

"Hujan yang sangat besar pada malam Sabtu di Desa Cilangari menyebabkan longsor yang menyumbat aliran sungai. Warga bisa rugi miliaran rupiah," kata Kepala Desa Cilangari H Sobana kepada detikcom, Minggu (8/12/2019).


Menurut Sobana, warga di Desa Cilangari juga rawan kekurangan pangan akibat sawah yang gagal dipanen. "Tiga irigasi amblas, tahun kemarin kami dapat bantuan tapi sekarang hancur semua akibat longsor," ujarnya.

60 Jiwa Terisolasi Danau Lumpur di Cilangari Bandung BaratFoto: Yudha Maulana
Sobana mengatakan, kejadian ini baru pertama kali terjadi di Cilangari. Kejadian ini, ditengarai akibat kemarau panjang selama tujuh bulan yang disambut hujan deras yang mengikis tanah di perbukitan yang berada di belakang kampung tersebut.

"Akses jalan terendam, jadi jalannya itu berbentuk cekungan. Sekarang tertutup oleh lumpur tebal," kata Sobana.

Sedikitnya 20 KK dengan 60 jiwa yang terisolasi akibat danau dadakan ini. "Saat ini kebutuhan pangan masih ada, tapi lambat laun juga akan menipis," kata Sobana.

60 Jiwa Terisolasi Danau Lumpur di Cilangari Bandung BaratFoto: Yudha Maulana
Sedianya, kata Sobana, ada jalan memutar bagi warga. Namun, jalan tersebut jarang dilewati karena medannya ekstrem, terlebih jalan tersebut sudah dipenuhi rimbunnya rumput liar.

"Ada jalan memutar sekitar 3-4 kilometer, jalannya sulit dilalui. Warga juga ada yang memaksakan harus menebas tumbuhan liar dulu," katanya.

Sejumlah pria pun mencoba mengakali putusnya jalan ini dengan membuat rakit dari bambu untuk menyeberang. Seperti yang dilakukan oleh Anang (56). "Kami buat dari bambu yang terbawa longsor kemarin, tadi sudah diujicoba tapi masih belum aman," ujarnya. (tro/tro)