Cimahi Masuk Zona Merah, DPKP: Jangan Terus Sedot Air Tanah

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 14:19 WIB
Ilustrasi air (Foto: Thinkstock)
Ilustrasi air (Foto: Thinkstock)
Cimahi - Seperti Kota Bandung, Kota Cimahi masuk zona merah dampak penurunan tanah (land subsidence) akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan.

"Cimahi ini sudah masuk ke zona merah sumber air dangkal dan sumber air dalam. Semua daerah di Cimahi itu zona merah, sudah tidak lagi membuka titik air baru," kata Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi M Nur Kuswandana, Kamis (5/12/2019).


Sebelumnya, peneliti geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi, jika hal tersebut dibiarkan, akan berdampak pada krisis air pada 2030.

"Mungkin puncaknya sama seperti yang dialami Kota Bandung dan kota lainnya, tahun 2030 atau lebih. Tapi sekarang sudah terasa, dan kondisi kekeringan ini memang fenomena global di kota besar," ujar Nur.

Selain eksploitasi air tanah oleh industri dan masyarakat, gejala ini pun diperparah oleh alih fungsi lahan serapan menjadi kawasan beton. "Karena tidak ada pohon, resapan yang tersisa hanya menampung air 30 persen saja, mungkin juga kurang. Jadi mengalir di permukaan itu 70 persennya," katanya.

Saat ini, ia mengimbau warga dan pelaku industri mendaur ulang air limbah yang digunakan dengan teknologi tertentu. "Solusinya mereka harus mulai melakukan daur ulang air limbah yang dihasilkan. Jangan langsung dibuang, tapi harus bisa diolah lagi. Jangan terus menyedot air tanah," tutur Nur.

(bbn/bbn)