3 Warga Bandung Tewas Karena Ular, Ini Kata Panji Petualang

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 01 Des 2019 13:25 WIB
Foto: Wisma Putra
Foto: Wisma Putra
Purwakarta - Tiga insiden gigitan ular yang mengakibatkan kematian terjadi di Kabupaten Bandung dalam tiga tahun terakhir. Dua warga meninggal akibat gigitan king kobra dan satu warga akibat lilitan ular piton rericulatus.

Menyoroti kejadian gigitan king kobra, Panji Petualang seorang pawang sekaligus profesional menangani ular berbisa dan tidak berbisa mengatakan dibutuhkan jam terbang tinggi bagi pencinta ular yang ingin memainkan ular king kobra.

Lalu faktor apa saja yang mengakibatkan orang tewas digigit ular king kobra?

"Pertama, biasanya jam terbang atau pengalaman si pawang kurang begitu lama mengenal si king kobra. Kedua, biasanya orang-orang yang belum mengerti tentang tingkah laku dan karakter king kobra lebih berisiko digigit ketimbang orang yang mengenal karakter si king kobra itu," kata Panji ditemui di Rumah Reptil Panji Petualang di Kabupaten Purwakarta, Minggu (1/12/2019).

Panji menyebut, king kobra bisa menyerang siapa saja. Apalagi saat diajak beratraksi dalam acara snake show yang biasa digelar komunitas ular atau dalam kegiatan acara seni.

"Ketiga, king kobra bisa sewaktu-waktu menyerang tuannya, mau senior atau junior, orang lama dan baru kemungkinan untuk digigit tinggi, karena ular ini lebih agresif dibandingkan ular lain," ungkapnya.

Selain itu, sebagai pawang ular yang sudah puluhan tahun di dunia tersebut, Panji menyebut dibutuhkan sekurang-kurangnya waktu 10 tahun mengenal karakter jenis ular sangat berbisa tersebut.

"Kalau pawang baru yang jelas tidak bisa langsung ke king kobra, minimal harus 10 tahun kita bermain ular, mengenal ular, baru kita bisa atraksi dengan king kobra," sebutnya.

Panji juga berujar, harus ada pawang senior yang mengawasi dalam setiap acara snake show atau atraksi ular.

"Kecuali kalau ada yang bimbing, ada yang mengawal, yang mengawal ini dalam artian orang lama dan pawang baru ini dikawal dan diajarkan oleh pawang yang sudah senior di bidang itu," ujarnya.

Panji menambahkan, bila tidak punya guru atau mentor pawang senior, jangan sekali-kali bermain dengan ular king kobra.

"Nanti ada SOP yang diberikan pawang lamanya, tapi kalau dia enggak punya pengarah, guru, mentor atau pawang senior dan tiba-tiba langsung ke king kobra yang sudah-sudah juga meninggal," tambahnya.

Panji juga merasa miris, kini banyak pencinta ular yang menjadikan king kobra hanya untuk berfoto selfie di medsos.

"Buat teman-teman atraksi yang tidak punya kepentingan untuk apapun juga mohon untuk tidak lagi atraksi dengan king kobra. Kecuali, kalau kalian ada yang mengawasi atau ada yang bimbing dari senior kalian. Tapi kalau sebatas buat selfi atau sebatas buat kalian gaya-gaya di Facebook, sebatas buat kalian pamer 'wah gua bisa hendle king kobra, jagoan,' itu udah enggak penting sekarang," jelasnya.

Panji menyebut, bila bermain ular king kobra terus terjadi snake bite, meninggal pun sudah tidak berguna lagi.

"Saran dari saya, tujuan kalian itu apa memelihara ular berbisa? Kalau misalkan tujuan kalian seni, dalam artian seni itu ada yang mengawasi, ada seniornya insya Allah aman," ujarnya.

Panji mengatakan, ia memelihara beragam jenis ular, salah satunya ular king kobra dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat.

"Tapi misalkan kalau kalian mandiri, solo atau sendiri, itu aku enggak jamin kalau kalian aman atau enggak, silahkan itu kembali pada pribadi kalian, tapi saya mengimbau kalau memang tidak ada tujuannya sebaiknya jangan memelihara king kobra," pungkasnya. (ern/ern)