Kena Strok, Guru Honorer Bergaji Rp 100 Ribu Dirawat Ibunya

Kena Strok, Guru Honorer Bergaji Rp 100 Ribu Dirawat Ibunya

Syahdan Alamsyah - detikNews
Jumat, 29 Nov 2019 12:55 WIB
Kena Strok, Guru Honorer Bergaji Rp 100 Ribu Dirawat Ibunya
Enong Komariah (70) merawat anaknya, Saepudin (40). Saepudin merupakan guru honorer di Cianjur yang mendapatkan gaji Rp 100 ribu per bulan. (Syahdan Alamsyah/detikcom)
Cianjur - Enong Komariah (70) berseri melihat kedatangan awak media ke kediamannya, Kampung Pasir Batu, Desa Jati, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Ia setia merawat sang anak, Saepudin (40), guru honorer yang kini hanya duduk di kursi roda lantaran terserang strok. Sudah 20 tahun Saepudin mengabdi sebagai guru honorer bergaji Rp 100 ribu per bulan.

Enong berharap anaknya tersebut mendapat perhatian dari pemerintah. Ia sejak awal mendukung keinginan Saepudin menjadi seorang guru. Meski bergaji Rp 100 ribu, Saepudin terbilang ulet dengan mencari penghasilan sampingan untuk kehidupan sehari-hari.

"Harapan saya, Saepudin bisa dijadikan PNS atau mendapat upah layak dari mengajar anak sekolah," kata Enong, Jumat (29/11/2019).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Enong sempat berkecil hati saat mengetahui anaknya mendapat gangguan penglihatan. Lambat laun penyakit Saepudin bertambah parah hingga akhirnya divonis strok oleh dokter. "Dia pernah jualan balon, penghasilan bisa sampai Rp 50 ribu sehari. Setelah sakit, kegiatannya berjualan dihentikan, namun dia masih setia mengajar," ujarnya.

Enong membenarkan bahwa istri Saepudin menggugat cerai pada saat kondisi putra ketiganya itu sakit. Kedua putra Saepudin atau cucunya itu kini tinggal bersamanya.

"Saya mengandalkan warung untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Makanya saya berharap perhatian dari pemerintah, minimal untuk pengobatan anak saya saja agar bisa sembuh. Selama ini saya rawat dia (Saepudin)," tutur Enong.

Kini Enong memikirkan biaya sekolah kedua anak Saepudin. Nasib cucunya ketika dewasa nanti perlu dipikirkan. "Saya dan anak berharap cucu itu tetap bersekolah sampai besar. Saya ingin anak saya dihargai pengabdiannya selama bertugas mengajar," kata Enong.

Kecintaan Saepudin (40) sebagai seorang pendidik harus berakhir di kursi roda. Guru honorer di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu kini menderita strok dan gangguan pada kedua belah matanya.

Kisah Saepudin bermula pada 1994. Saat itu ia mengajar di SDN Mekarjaya, Kecamatan Bojongpicung. Dua tahun mengajar, gejala gangguan mata mulai ia rasakan pada 1997.

Tekadnya yang kuat tidak menyurutkan keinginan mengajar walau hanya bergaji Rp 100 ribu per bulan.

"Profesi guru itu sangat mulia, ditambah memang sudah menjadi cita-cita saya sejak kecil. Walau gaji hanya Rp 100 ribu, saya cukup-cukupkan. Untuk menambal kebutuhan dapur, saya berjualan balon," tutur Saepudin.
Halaman 2 dari 2
(sya/bbn)


Berita Terkait