UMK Tinggi, Pemkab Karawang Bidik Investor di Sektor Pariwisata

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Selasa, 26 Nov 2019 17:57 WIB
Candi Batujaya di Kabupaten Karawang. (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom)
Candi Batujaya di Kabupaten Karawang. (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom)
Karawang -
UMK Kabupaten Karawang merupakan yang tertinggi di Indonesia mencapai Rp 4.594.324,54. Kondisi tersebut dinilai bisa mengancam iklim investasi di daerah tersebut. Lalu apa langkah dari Pemkab Karawang?

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DBMPTSP) Karawang Dedi Achdiat mengaku, telah menyiapkan beberapa langkah untuk menjaga iklim investasi. Salah satunya dengan mengembangkan peluang investasi di luar industri manufaktur, seperti pariwisata, barang dan jasa.

"Kita bidik investasi di sektor lain. Ada pariwisata, barang dan jasa. Kita tawarkan peluang itu di dekat proyek strategis nasional seperti kereta cepat," kata Dedi, Selasa (26/11/2019).

Dedi memprediksi, sektor barang dan jasa bakal tumbuh pesat. Aalagi saat ini sedang dilakukan pembangnan Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang tentu akan memberi dampak terhadap perekonomian di Kabupaten Karawang.

"Bakal muncul toko, properti, tranaportasi dan semacamnya di dekat stasiun kereta cepat," kata Dedi.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga membidik investasi di sektor pariwisata. Pengembangan, kata dia, akan dilakukan di wilayah yang telah memiliki potensi wisata. Seperti Kecamatan Pangkalan, Tegawaru, pesisir laut dan sejumlah situs religi seperti Candi Batujaya dan Makam Syekh Quro.

"Kita mendorong, pengelola wisata yang tidak memiliki izin untuk segera menyelesaikan perizinannya," kata Dedi.

Seperti diketahui, UMK Karawang tahun 2020 bakal mencapai Rp 4.594.324,54. Nilai itu menjadi yang tertinggi se-Indonesia. Peningkatan nilai upah dikhawatirkan dapat menurunkan minat investor di bidang industri. Sebab, aada tren pengusaha memindahkan pabriknya ke daerah yang nilai UMK-nya lebih rendah.

"Kalau sudah begitu, dampaknya terjadi gelombang PHK dan pengangguran. Makanya kita bidik sektor lain supaya lapangan kerja tetap tersedia," ungkap Dedi.

Meningkatnya UMK Karawang juga berdampak pada terpuruknya sektor industri Tekstil, Sandang Kulit (TSK) yang bersifat padat karya. Alhasil, kata Dedi investasi industri Karawang akan beralih. Dari sebelumnya sektor industri TSK menuju industri manufaktur.

Hanya saja, lanjut Dedi, industri manufaktur yang berinvestasi akan lebih mengutamakan teknologi robot dengan jumlah tenaga kerja manusia yang jauh lebih sedikit.

"Kalau dari dokumen-dokumen perizinan saat ini. Banyak perusahaan industri manufaktur yang lebih mengutamakan teknologi robot, jumlah tenaga kerjanya pun tidak terlalu banyak," ujar Dedi. (mso/bbn)