Menguak Sejarah Abattoir di Cimahi yang Ada Sejak Zaman Belanda

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 19 Nov 2019 11:45 WIB
Abbatoir atau rumah potong hewan di Cimahi yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. (Yudha Maulana/detikcom)
Cimahi - Menguak jejak Kolonial Hindia Belanda di Kota Cimahi, Jawa Barat, seakan tak ada habisnya. Daerah dengan tiga kecamatan ini dahulu pernah difungsikan sebagai garnisun atau basis militer.

Salah satu penunjang kebutuhan militer Hindia Belanda saat itu adalah rumah potong hewan (RPH) atau abattoir dalam bahasa Belanda. Rumah jagal ini berada di ujung Jalan Sukimun, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.


Abattoir yang dibangun dengan gaya art deco ini menjadi bukti kematangan pemerintah Hindia Belanda dalam memasok kebutuhan pangan tentaranya karena dibangun dekat perlintasan kereta. Sapi impor dari Australia yang dikirim via Batavia pun bisa langsung didatangkan melalui jalur kereta tanpa melalui Jalan Raya Pos untuk memudahkan pengirimannya.

Kereta yang melintas pun bisa langsung berhenti di depan abattoir tanpa harus menggiring sapi dari Stasiun Cimahi, yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari sana.

Menguak Sejarah Abattoir di Cimahi yang Ada Sejak Zaman BelandaFoto: Yudha Maulana/detikcom
Pemerhati sejarah Kolonial Belanda dari Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok, mengatakan semua memungkinkan karena saat itu belum ramai permukiman warga. Kini abattoir itu dikepung rumah warga.

"Memang kebutuhannya memasok pangan untuk tentara yang bertugas di Cimahi. Kereta api dulu bisa berhenti di dekat RPH untuk menurunkan sapi khusus untuk kebutuhan memasok daging," ujar pria yang akrab disapa Kang Mac tersebut, Selasa (19/11/2019).Rumah jagal itu masih difungsikan saat masa kependudukan Jepang di Tanah Air (1942-1945), hingga akhirnya diambil alih oleh Residen Priangan. Saat berada di tangan Residen Priangan dan masa perang kemerdekaan berakhir, RPH diserahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Kabupaten Bandung sekitar tahun 1960-an.

"Fungsinya tetap sama, sebagai rumah jagal. Baru setelah Cimahi jadi kota administratif tahun 1976, dikelola oleh pemerintahan Cimahi," kata Mac.

Seiring dengan menjamurnya permukiman warga, aktivitas jagal di abattoir ini semakin sedikit. Terlebih pemotongan hewan dan pemasok daging sapi lebih banyak dilakukan di RPH Andir, Kota Bandung.


Pemerintah Kota Cimahi mendaftarkan bangunan heritage ini menjadi salah satu cagar budaya. Kendati demikian, bangunan ini kini kondisinya terbengkalai. Langit-langitnya sebagian jebol. Sementara itu, dinding bagian luar RPH mengelupas sehingga terlihat susunan bata merah di dalamnya. Bangunan ini terdiri atas dua tingkat dan satu lapang untuk menjagal hewan ternak.

Lantai atas digunakan untuk keperluan pegawai RPH. Sedangkan lantai bawah digunakan untuk menyimpan sapi dan ternak lainnya. Bagian bawah ini dikunci rapat, walau pintu kayunya keropos termakan zaman.

Menguak Sejarah Abattoir di Cimahi yang Ada Sejak Zaman BelandaFoto: Yudha Maulana/detikcom
Masih terlihat cantelan besi dan tali-temali untuk menggantung potongan daging di sana. Besi cantelan itu juga berkarat. Sempat muncul wacana reaktivasi tempat ini, namun tersandung sarana pembuangan limbah potong dan kotoran ternak yang tak memadai.

"Tahun 1990-an sebetulnya sudah tidak dipakai, tapi baru berhenti sepenuhnya 2000-an. Karena yang utama untuk suplai daging sebetulnya di Andir," ujarnya.

Lokasi abattoir ini hanya terpaut sekitar seratus meter dari Hotel dan Kolam Berglust, yang dahulu menjadi tempat pelesiran para prajurit kolonial dan warga Tionghoa di Kota Cimahi. (tro/tro)