Istana Kerang Cirebon: Tak Diminati Lokal, Berjaya di Internasional

Sudirman Wamad - detikNews
Senin, 18 Nov 2019 10:32 WIB
Istana Kerang Cirebon diminati pasar mancanegara dibanding lokal. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Cirebon - Pasangan suami istri (pasutri), Jaime Taguba dan Nurhandiah J Taguba sukses membangun tempat usaha bernama Istana Kerang. Lika-liku yang dilalui dan pasang surut ekonomi tak membuat pasutri ini gentar dan akhirnya sukses berbisnis kerajinan berbahan baku limbah kulit kerang.

Nurhandiah masih mengingat betul peristiwa krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada 1997-1998. Finansial keluarga Nurhandiah terdampak. Suaminya, Jamie Tabuga yang saat itu bekerja sebagai kontraktor tak banyak mendapatkan proyek.

"(Finansial) kita jatuh. Mau tidak mau kita harus berpikir agar bangkit lagi," kata Nurhandiah saat menceritakan perjuangannya membangun Istana Kerang yang berada di Desa Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (18/11/2019).


Du tahun setelah krisis moneter, tepatnya tahun 2000, Nurhandiah mendapatkan ide tentang pemanfaatan limbah kulit kerang. Saat itu, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi secara besar-besaran karena dampak krisis moneter. Nurhandiah melihat peluang mengajak sejumlah mantan pekerja untuk membantunya berbisnis kerajinan limbah kulit kerang.

Namun perjalananannya tak mulus. Produk hasil kerajinan Nurhandiah sempat dicampakkan pasar lokal. "Pernah di pameran Sarinah, Pasar Raya Jakarta, di mal Cirebon. Tapi sambutannya kurang. Akhirnya kita tarik lagi," katanya.

Istana Kerang Cirebon: Tak Diminati Lokal, Berjaya di InternasionalFoto: Sudirman Wamad
Kemudian, perjuangan Nurhandiah mendapatkan sambutan yang luar biasa dari pasar luar negeri. Negara-negara Asia dan Eropa melirik produk kerajinan kulit kerangnya. Hingga kini, Nurhandiah masih rutin ekspor ke luar negeri.

"Sekarang yang masih rutin untuk eskspor itu ke Spanyol dan Jepang," kata Nurhandiah.

Nurhandiah mengaku sempat kebanjiran order dari luar negeri, tepatnya sekitaran tahun 2008 hingga 2010. Dalam satu bulan, Nuhandiah mampu mengirim produknya sebanyak 11 kontainer. Menjelang tahun 2015, pesanan ekspornya mulai mengalami penurunan.

"Ya waktu itu ada Prancis, Italia dan lainnya. Sekarang juga masih, kaya ke Thailand, Malaysia, Kuwait dan lainnya. Tapi tidak seperti dulu. Sekarang itu tiap bulannya sekitar tiga kontainer," kata Nurhandiah.
Selanjutnya
Halaman
1 2