detikNews
Kamis 07 November 2019, 06:47 WIB

FK XTatto, Rumah Singgah Kaum Marginal di Bandung Barat

Yudha Maulana - detikNews
FK XTatto, Rumah Singgah Kaum Marginal di Bandung Barat Foto: Yudha Maulana/detikcom
Bandung Barat - Lama terperosok di hitamnya dunia hiburan membuat Budianto (39) kerap dihantui rasa gamang. Tato yang terukir di hampir sekujur tubuh, bahkan wajahnya, seolah menggambarkan kelam dan liarnya masa lalu pria yang akrab disapa Atok itu.

Kehidupannya dulu ia habiskan di jalanan. Ia pernah hidup menggelandang dan mendapatkan cibiran, tuduhan, hingga diskriminasi karena penampilannya yang dipandang tak biasa.

Nazar agar menjadi insan bermanfaat pascakelahiran anak pertama menjadi titik balik kehidupan pria kelahiran Bogor, Jawa Barat, itu. Perlahan, ia menjelma menjadi sosok yang peduli dan humanis, terutama bagi kaum termarginalkan.

"Setelah lima tahun menikah, akhirnya saya dianugerahi seorang putri, Fatimah namanya. Setelah itu saya seperti dikejar-kejar untuk menunaikan nazar saya," kata Atok saat ditemui di rumahnya, Rabu (6/11/2019).

Di rumahnya yang sempit, di pojok gang senggol yang berada di Jalan Ciburial, Desa Margajaya, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Atok mendirikan rumah singgah bagi kaum terpinggirkan pada 2013 di bawah bendera FK XTatto.

"Saya dirikan rumah singgah ini, biar orang yang senasib dengan saya punya rumah buat pulang dan mereka akan diterima di sini," ujar Atok, yang kini memiliki nama hijrah Muhammad Malik Ibrahim.


FK XTatto, Rumah Singgah Kaum Marjinal di Bandung BaratFoto: Yudha Maulana/detikcom

Poster ala anak punk berpadu harmonis dengan ajakan beribadah di dinding rumahnya. Atok juga menjadikan rumahnya sebagai taman baca, mulai buku keagamaan hingga pengetahuan umum tersimpan rapi di rak yang berderet vertikal.

"Saya dan istri punya sedikit tabungan, akhirnya kami beli rumah ini. Untuk rumah singgah, alhamdulillah mereka suka," kata Atok.

Selama enam tahun berdiri, FK XTatto telah membina 800 orang marginal. Atok melakukan pendekatan khusus kepada mereka dan mengenalkan nilai-nilai agama Islam.

"Saya tanamkan ke anak-anak, jangan balas cibiran orang dengan kejelekan. Tapi tunjukkan sisi baik kita. Saya sendiri yakin, sebrengseknya seseorang, dia punya sisi baik, itu yang mesti kita berikan sama orang lain," katanya.

Menurutnya hubungan dengan Allah itu mudah, lewat zikir dan salat. "Yang sulit itu hubungan dengan manusia, bagaimana mereka (peserta binaan) bisa menghadapi pandangan dari orang-orang di sekitarnya," Atok melanjutkan.

Ia pun selalu menekankan kepada anggota komunitasnya untuk tidak pernah meminta-minta, tapi memberi dan melakukan hal bermanfaat bagi sesama.

"Rencananya tanggal 14 Desember nanti kami akan lakukan bakti sosial. Alhamdulillah, Wakil Bupati merespons positif niatan kami," katanya.

Selama rumah singgah itu berdiri, tak banyak pihak, terutama dari instansi pemerintahan, yang membantu keberlangsungan komunitas tersebut. Atok bersama istrinya berjibaku menghidupi hajat anak binaannya tanpa pamrih.

"Istri saya bekerja sebagai satpam. Saya ternak dan menjual burung hias," tuturnya.

Lambat laun masyarakat di sekitar rumah singgah mulai menerima keberadaan mereka. Bahkan banyak tokoh politik yang ingin mendulang suara anggota komunitas FK XTatto saat masa pemilu.

"Kami hanya minta pelatihan yang berkesinambungan agar kami mandiri. Selama ini pelatihan masih sekadar formalitas, sehari dua hari kemudian diberi uang, kami ingin mandiri benar," katanya.
(ern/ern)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com