Pengguna Rokok Elektrik di Jabar Meningkat, Bea Cukai: Potensinya Rp 100 M

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Selasa, 29 Okt 2019 14:36 WIB
Foto: dok. Istimewa
Bandung - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kanwil Jawa Barat mencatat peningkatan konsumsi cukai liquid vape atau cairan rokok elektrik di Jabar mencapai 50 persen. Potensi pendapatannya hingga Rp 100 miliar.

Kepala DJBC Kanwil Jabar Syaifullah Nasution mengatakan produk vape kini mulai digandrungi masyarakat, khususnya milenial.

"Vape sekarang cukup tinggi di Jabar. Pertumbuhannya dari tahun kemarin mencapai 50 persen," ucap Syaifullah dalam keterangan resminya, Selasa (29/10/2019).

Dengan demikian, kata Syaifullah, potensi pendapatan dari sumber vape bisa meningkat. Momentum ini akan dimanfaatkan DJBC untuk mendongkrak pendapatan negara melalui cukai.

"Potensinya (liquid vape) tahun ini sampai Rp 100 miliar di Jabar. Tahun kemarin kita dapat sekitar Rp 30 miliar," kata dia.

Menurut Syaifullah, penerapan tarif cukai pada liquid vape juga seakan memberikan kepastian kepada para pelaku usaha liquid vape soal legal-tidaknya penjualan vape.

Menurutnya, sebelum adanya tarif cukai, pengusaha liquid vape merasa tidak terlindungi lantaran tidak ada instansi yang mau memberikan izin berjualan.

"Cukai mengenakan tarif, itu bukan izin. Tapi paling tidak, ketika jadi objek cukai, kita pungut, sehingga dia merasa sudah bayar cukai, jadi sah," katanya.

Syaifullah menambahkan upaya meningkatkan pendapatan negara melalui liquid vape ini seiring dengan naiknya target penerimaan negara yang dibebankan kepada DJBC Jabar.

"Target yang dibebankan kepada kita naik. Sebelumnya Rp 26 triliun pada 2018, sekarang menjadi Rp 28,8 triliun pada 2019," katanya.

Selain membidik liquid vape sebagai sumber pendapatan, pihaknya juga terus mengoptimalkan dari cukai rokok. Pihaknya sedang mengatur keseimbangan antara pendapatan dari cukai rokok dengan menaikkan tarif rokok.

"Produksi (rokok) diturunkan, tarif (cukai) yang kita naikkan. Kita lihat, tarif tahun depan 23 persen. Kita yakin target pendapatan tetap terealisasi, apalagi dengan fanatisme masyarakat Indonesia terhadap rokok," tuturnya. (dir/ern)