detikNews
Jumat 11 Oktober 2019, 16:49 WIB

Kisah Ahmad, 33 Tahun Rawat Sel Bekas Penjara Bung Karno

Reta Amaliyah - detikNews
Kisah Ahmad, 33 Tahun Rawat Sel Bekas Penjara Bung Karno Foto: Reta Amaliyah Shafitri
Bandung - "Koe Korbankan Dirikoe di Penjara Ini Demi Bangsa dan Negarakoe Indonesia"

Ungkapan ini begitu terkenal, saat Bapak Proklamator Indonesia Soekarno mendekam di penjara Banceuy sebagai tahanan politik. Ia bersama tiga kawan seperjuangannya di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Gatot Mangkoepradja, Soepriadinata, dan Maskoen Soemadiredja ditangkap Pemerintah Kolonial Belanda pada dini hari, 30 Desember 1929, usai berpidato di sebuah rapat akbar di Yogyakarta.

Mereka ditangkap karena pergerakannya dianggap membahayakan dan dituduh akan menggulingkan pemerintah Belanda. Soekarno dan kawan-kawannya digiring keluar rumah dengan todongan senjata dan dibawa menggunakan kereta api ke penjara Banceuy, Bandung. Soekarno resmi ditahan di penjara Banceuy pada 30 Desember 1929 dan menempati sel Blok F Nomor 5.

Di sel pengap berukuran 1,46 x 2,10 meter itulah, Soekarno menyusun naskah pledoi Indonesia Menggugat yang dibacakan saat sidang di Pengadilan Landraad Bandung pada 1930 atau saat ini dikenal dengan Gedung Indonesia Menggugat. Sel penjara Banceuy menjadi saksi bisu perjuangan Soekarno untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sayang, kini sel bersejarah tersebut seolah terlupakan sejak Lapas Banceuy dipindahkan ke Jalan Soekarno Hatta pada 1983 dan kawasan di sekitarnya dibangun ruko. Sel yang mengurung Soekarno selama 1 tahun 2 bulan itu berdiri sendiri di tengah impitan pertokoan Banceuy Permai.

Beruntung berkat kegigihan dan kerja keras Juru Pelihara Situs Penjara Banceuy, Ahmad, sel bekas penjara Bung Karno masih terawat hingga sekarang. Ia bersama mantan Gubernur Jawa Barat periode 1960 - 1970, Mashudi yang mempertahankan sel itu agar tidak dibongkar. Pria kelahiran Kuningan, 7 Juli 1966 ini telah mengabdikan diri menjaga situs penjara Banceuy selama 33 tahun.
Kisah Ahmad, 33 Tahun Rawat Sel Bekas Penjara Bung KarnoFoto: Reta Amaliyah Shafitri


Sukarela Menjaga Situs

Berbekal kepeduliannya akan bangunan kuno tersebut, Ahmad sukarela menjalankan tugasnya. Semua bermula dari pemugaran Lapas Banceuy pada 1982 yang setelahnya dibangun kompleks pertokoan. Ia semula bekerja sebagai security di perusahaan yang membongkar dan menata ruko. Setelah pembangunan selesai dan perusahaan tempatnya bekerja pindah ke Jakarta, Ahmad yang kala itu masih berusia 20 tahun mulai menjaga situs penjara Soekarno hingga sekarang.

"Waktu itu penghuni ruko masih penuh, ketika masih jadi security saya sekaligus menjaga situs penjara takut ada pekerja atau oknum yang nakal," ujar Ahmad kepada detikcom, Jumat (11/10/2019).

Ia mengisahkan, selama bekerja dari 1986 - 2014, dirinya mesti rela merogoh kocek pribadi untuk merawat situs penjara Banceuy tanpa ada campur tangan maupun honor dari pemerintah. Ia juga pernah dibantu swadaya masyarakat untuk memperbaiki atap sel dan memelihara bangunan situs agar tak semakin lapuk dimakan zaman.

"Baru pada 24 Juni 2014 saya kedatangan tamu dari Jakarta, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Mereka menanyakan kenapa saya bisa merawat situs ini padahal merupakan aset pemerintah. Saya jawab, ini memang aset pemerintah, tapi tidak ada yang peduli. Kalau saya tidak peduli, barangkali (situs penjara Banceuy) sudah hilang," kenang Ahmad.

Setelah kejadian tersebut, seminggu kemudian, Ahmad dikunjungi pihak Balai Pengelolaan Cagar Budaya Nilai Budaya dan Sejarah (BPCBNBS) Kota Bandung, lalu menyarankannya untuk mengajukan diri sebagai Juru Pelihara (Jupel). Jupel bertugas merawat, memelihara, dan menjaga keamanan cagar budaya. Dari situ, dirinya mendapat honor Rp 1,5 juta per bulan.

Bertepatan dengan Peringatan Konferensi Asia Afrika 2015 lalu, Ahmad seolah mendapat angin segar lantaran pemerintah mulai melakukan penataan situs penjara Banceuy. Situs dibenahi dan dibuatkan patung Soekarno tengah duduk memegang buku serta pena perunggu.

Kendati demikian, Ahmad tak lantas menikmati honor sepenuhnya. Ia harus menyisihkan sebagian honornya untuk biaya token listrik per bulan, ditambah peralatan kebersihan.

"Pengadaan bendera juga inisiatif sendiri. Banner ini kalau sudah robek, bapak bingung. Untuk menggantinya butuh sekitar Rp 40 juta," kata Ahmad sambil menunjuk banner-banner berisi sedikit penjelasan sejarah Soekarno yang terpasang di sekeliling situs.

Ini dilakukannya karena tidak mendapat biaya operasional perawatan situs, hingga harus mengambil inisiatif untuk memasang kotak sumbangan berdasarkan usul mantan Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Ia pun tidak mematok besaran sumbangan dan memaksa pengunjung.
Kisah Ahmad, 33 Tahun Rawat Sel Bekas Penjara Bung KarnoFoto: Reta Amaliyah Shafitri

Meski mengaku lebih banyak duka ketimbang suka, Ahmad tak pernah menyesal dan terbersit untuk berhenti menjaga warisan sejarah itu. Ia merasa hal tersebut sudah menjadi bagian takdirnya tanpa ada suruhan dari siapapun. Saat disinggung soal kekagumannya pada Soekarno, Ahmad bahkan tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata.

Pengabdiannya selama puluhan tahun membuatnya hapal betul perjuangan Soekarno di balik sel penjara. Sel sempit yang kini berisi barang replika seperti tempat tidur besi beralaskan tikar anyam, alat makan, pispot kaleng, dan beberapa foto Soekarno akan terus dijaga Ahmad.

Mengutip semboyan idolanya, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah". Ia berpesan kepada generasi penerus bangsa agar turut menjaga dan memelihara situs warisan sejarah, karena ada cerita sisa-sisa perjuangan di baliknya.

"Ke depannya, mau ada yang datang silakan, tidak juga tidak apa-apa. Yang penting selnya utuh," pungkas Ahmad.


(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com