Seratusan Karyawan Pabrik Boneka di Sukabumi Keracunan Makanan

Syahdan Alamsyah - detikNews
Selasa, 10 Sep 2019 16:47 WIB
Karyawan pabrik yang keracunan mendapat penanganan medis (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Sukabumi - Seratusan karyawan pabrik boneka PT Royal Puspita di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami keracunan setelah menyantap makanan di warung dekat tempatnya bekerja, Selasa (10/9/2019). Mereka mengalami mual serta muntah hingga mendapat penanganan medis di Puskesmas Parungkuda dan RS Alta.

"Tadi makan ayam sama sayur nangka, warung itu langganan udah lama tapi tadi habis makan kerasanya mual, kemudian muntah-muntah. Ternyata teman-teman yang lain juga mengalami hal yang sama," kata Ahmad Jamaludin, karyawan yang keracunan, kepada detikcom.

Sewaktu menyantap makanan, Ahmad tidak merasakan hal yang aneh. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. "Terasanya tidak lama, sesaat setelah makan memang agak terasa pusing," ucapnya.

Hal sama dialami Maya Rusmayanti. Ia menyantap makanan dari warung yang bersebelahan dengan gerbang pabrik. "Makanan itu kondisinya sudah terbungkus siap santap, ada berbagai menu ikan, ayam dan sayur nangka atau gudeg. Jadi kalau kita beli tinggal bawa dan makan di pabrik," tutur Rusmayanti.

Seratusan Karyawan Pabrik Boneka di Sukabumi Keracunan MakananKaryawan pabrik yang keracunan mendapat penanganan medis (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Maya mengaku membeli ayam dan sayur nangka. Setelah makan siang itu, dia belum merasakan gejala keracunan. "Pas salat zuhur mual, lalu muntah-muntah pusing dan panas. Sebelumnya nggak pernah kejadian begini, itu warung biasa langganan karyawan di sini," kata Maya.

Kapolsek Parungkuda Resor Sukabumi Kompol Maryono menjelaskan ada seratusan karyawan yang dirawat secara terpisah. Tercatat 41 orang dirawat di RS Alta dan 70 lainnya di Puskesmas Parungkuda.

"Kita koordinasi dengan puskesmas dan rumah sakit untuk fokus dulu ke penanganan korban keracunan ini. Info keseluruhan ada 111 karyawan yang terdampak keracunan, perusahaan juga sudah membuat laporan ke kita dan masih dalam penyelidikan terkait penyebab keracunan," ujar Maryono. (sya/bbn)