detikNews
Minggu 08 September 2019, 20:52 WIB

Pemkot Klaim Urban Farming di Bandung Berhasil Penuhi Pangan Warga

Mochamad Solehudin - detikNews
Pemkot Klaim Urban Farming di Bandung Berhasil Penuhi Pangan Warga Foto: Grandyos Zafna
Bandung - Dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Kota Bandung cukup gencar mengkampanyekan konsep urban farming kepada masyarakat. Sampai saat ini hasilnya diklaim cukup positif.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar menyatakan, masyarakat sudah semakin paham manfaat dari urban farming. Bahkan menurutnya, urban farming di Kota Bandung sudah memberi kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan di masyarakat.

Berdasarkan kajian dari salah satu perguruan tinggi negeri, dia mengungkapkan, konsep urban farming bisa mengurangi 5-6 persen ketergantungan masyarakat terhadap produk pangan dari luar Kota Bandung.

"Ada beberapa teman dari perguruan tinggi yang riset dan hasilnya menyebutkan sekitar 5-6 persen urban farming mengurangi ketergantungan pangan dari luar Bandung," katanya, Minggu (8/9/2019).

Dia menyebutkan, meski hasil riset itu perlu dikaji secara mendalam, namun pihaknya yakin penerapan konsep urban farming telah berdampak positif. Masyarakat juga sudah mulai banyak menerapkan konsep tersebut di lingkungannya.

Produk hasil urban farming sejauh ini, lanjut dia, memang sebagian besar dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Mulai dari sayur-sayuran seperti cabai, wortel dan produk lainnya.

"Kecenderungan pemanfaatan urban farming untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tapi ada juga untuk bisnis. Mereka mampu menjual hasil produknya ke pihak lain," katanya.

Dia menambahkan, saat ini sudah ada 150 kelompok urban farming yang mendapat pembinaan dari Dispangtan Kota Bandung. Setiap kelompoknya berisi 15-20 orang. Jumlah tersebut belum ditambah masyarakat yang menerapkan urban farming secara mandiri.

Namun, memang jumlah masyarakat yang menerapkan konsep urban farming belum ideal. Untuk itu pihaknya terus mengajak masyarakat untuk ikut membudidayakan tanaman pangan dengan metode urban farming.

Pihaknya mengaku siap membantu dan memberikan edukasi terkait teknik bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan terbatas. "Dengan kondisi cuaca saat ini, urban farming bisa menjadi solusi. Karena media yang digunakan bukan lahan terbuka yang luas. Kita manfaatkan lahan sempit menggunakan pot, menggunakan aquaponik dan lainnya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemberdayaan Dispangtan Kota Bandung Sri Rezeki menambahkan, komoditi pangan memang sebagian besar didatangkan dari luar Bandung. Termasuk komoditi sayuran, seperti cabai rawit, cabai merah dan produk lainnya.

Untuk kebutuhan cabai rawit saja di Kota Bandung sekitar 56,90 ton per minggu. Kemudian cabai merah 1,36 ton perminggu. Sementara sayuran hijauh kebutuhan besar dari kangkung yang mencapai 175,84 ton perminggu, tomat rata-rata 88,73 ton dan bayam 118, 56 ton.

"Dengan urban farming jenis-jenis sayuran yang biasa dibeli bisa dipanen sendiri. Biasanya butuh satu bulan kita bisa memanen," ucapnya.

Menurutnya, pihaknya terus berupaya menggerakkan masyarakat untuk memulai bercocok tanam melalui konsep urban farming. Semakin banyak masyarakat yang terlibat, maka akan bisa mengurangi kebutuhan pangan dari luar daerah.

"Kebutuhan pangan untuk yang besar-besar seperti restoran atau catering. Kalau konsumsi rumah enak dengan urban farmin tinggal petik (sendiri)," ujarnya.
(mso/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com