Kemarau, Debit Air Waduk Jatiluhur Terus Menyusut

Kemarau, Debit Air Waduk Jatiluhur Terus Menyusut

Dian Firmansyah - detikNews
Kamis, 22 Agu 2019 15:40 WIB
Foto: Dian Firmansyah
Foto: Dian Firmansyah
Purwakarta - Dampak kemarau yang berkepanjangan membuat tinggi muka air (TMA) di Waduk Insinyur Juanda Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, terus menyusut. Ketinggian muka air kini berada di titik 98 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara biasanya dalam kondisi normal, batas limpasnya berada di ketinggian 107 mdpl.

Menurut Direktur Operasi Dan Pengembangan PJT II Jatiluhur Antonius Aris Sudjatmiko, dengan ketinggian muka air sekitar 98 mdpl itu, masih bisa diatur untuk kebutuhan pengguna di wilayah hilir.

"Penyusutannya masih dalam rentang dapat dikontrol, sekitar 10-15 sentimeter per hari, masih bisa kita sesuaikan dengan kondisi kebutuhan di hilir," ujar Aris saat dimintai konfirmasi di sekitar Bendungan Jatiluhur, Kamis (22/8/2019).



Kondisi tersebut mengancam pasokan air baku yang dialirkan ke wilayah Jakarta. Selain itu, dampak menurunnya debit air di Waduk Jatiluhur juga mengancam sistem pengairan untuk area pertanian di empat kabupaten di wilayah hilir, yaitu Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Indramayu.

"Untuk suplai air bersih ke Jakarta kita prioritaskan, sampai saat ini masih aman. Sedangkan untuk sistem pengairan ke wilayah hilir itu ada sistemnya gilir giring, mulai yang terdekat hingga golongan yang terjauh," ucapnya.

Diketahui sedikitnya ada sekitar 240 ribu hektare area persawahan yang dialiri air dari Waduk jatiluhur. Sejauh ini sistem gilir giring yang dilakukan terus berlanjut meski ada perubahan karena pola tanam dari para petani.

"Sistemnya kan gilir giring, nah yang jadi persoalan itu pola tanam dari para petani, ada yang telat menanam dari jadwal tanamnya, ada yang menanam yang harusnya dua kali tanam padi selama satu tahun namun dilakukan tiga kali itu menjadi perubahan distribusi airnya," ungkap Aris.
Kemarau, Debit Air Waduk Jatiluhur Terus MenyusutFoto: Dian Firmansyah



PJT II Jatiluhur selaku pengelola mengklaim jika ketersediaan air ini dapat mencukupi hingga akhir tahun. Meski begitu, PJT II Jatiluhur mengkhawatirkan jika air terus surut akan berdampak pada sistem pengelolaan air pada tahun berikutnya.

"Prediksi BMKG musim kemarau hingga bulan Oktober akhir. Jika kondisi ini meleset dan kemarau lebih panjang, kami akan melakukan berbagai upaya, salah satunya memodifikasi cuaca agar hujan lebih awal," ujar Aris.

Produksi Listrik Menurun
Sementara itu, selain bertugas mengairi area persawahan, air Waduk Juanda ini juga memproduksi listrik dengan memutarkan air ke turbin untuk pembangkit listrik. Produksi listrik di PJT II ini disuplai ke PLN dan dikirim untuk menerangi wilayah Jawa-Bali. Pada saat musim kemarau ini produksi listrik menurun.

"Di musim kering ini kan keluar air dihemat. Pada saat air dihemat, air keluar jadi kecil, maka pembangkitan listrik juga lebih kecil," jelasnya.

Pada posisi air melimpah, air berada di ketinggian 107 mdpl, maka produksi listrik dapat mencapai 185 megawatt dengan enam unit turbin. Namun pada saat musim kemarau ini, pihaknya hanya mampu memproduksi 110 megawatt dengan menghidupkan empat turbin.



Tonton video Kekeringan, Ratusan Petani di Pasuruan Cari Air hingga 10 Km:

[Gambas:Video 20detik]

(ern/ern)