detikNews
Kamis 15 Agustus 2019, 17:07 WIB

SLB Tertua di Asia Tenggara Terancam Digusur Kemensos

Mochamad Solehudin - detikNews
SLB Tertua di Asia Tenggara Terancam Digusur Kemensos SLBN A Kota Bandung yang merupakan tertua di Asia Tenggara terancam digusur Kemensos. (Foto: Mochamad Solehudin/detikcom)
Bandung - Polemik perubahan status Wyata Guna dari panti menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Netra (BRSPDSN), Kota Bandung, masih berlanjut. Perubahan itu bahkan berdampak terhadap keberadaan SLB Negeri (SLBN) A Kota Bandung.

Sebab Kementrian Sosial berencana membangun Balai Rehabilitasi Sosial Disabilitas Terpadu berstandar internasional di atas seluruh lahan Kompleks Wyata Guna seluas kurang lebih 4,5 hektar. SLBN A Kota Bandung terancam tergusur bila rencana itu direalisasikan.


Sebagaimana diketahui, Kementrian Sosial mengeluarkan Permensos Nomor 18 tahun 2018 tentang organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis rehabilitasi sosial penyandang disabilitas di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. Melalui Permen tersebut nomenklatur Wyataguna yang asalnya berbentuk panti menjadi balai.

Perubahan itu berdampak terhadap pelayanan penghuni asrama yang selama ini menghuni Wyata Guna. Puluhan penyandang disabilitas netra bahkan telah diminta meninggalkan Wyata Guna sejak 21 Juli 2019 lalu.

Polemik itu ternyata tidak hanya memberi dampak negatif terhadap penghuni balai. Tapi juga terhadap SLBN A Kota Bandung yang berada dalam satu kawasan kompleks dengan Balai Wyata Guna yang terancam tergusur.

Apalagi surat permohonan hibah tanah dan bangunan untuk SLBN A Kota Bandung yang diajukan Gubernur Jabar ditolak oleh Menteri Sosial Agus Gumiwang. Dalam surat balasannya, Agus justru meminta agar Pemprov Jabar segera mencari lokasi pengganti dan memindahkan SLBN A Kota Bandung.


Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SLBN A Kota Bandung Y Tribagio menjelaskan, SLBN A Kota Bandung telah berdiri sejak 1901. Bahkan SLBN A ini merupakan salah satu SLB tertua di Indonesia.

Sayangnya kondisi SLB yang mendapat status negeri pada tahun 1962 cukup mengkhawatirkan. Beberapa sudut bangunan SLB ini mengalami banyak kerusakan dan perlu mendapat perhatian.

Akan tetapi sejumlah bantuan tidak bisa diterima termasuk gelontoran anggaran APBD dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gara-garanya aset tanah SLB merupakan milik Kemensos.

Sementara Kemensos tidak bisa memberikan bantuan karena pengelolaan SLB yang mendapat status negeri pada 1962 bukan kewenangannya. Melainkan menjadi kewenangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Disdik (Jabar) berbaik hati karena tau kondisi ruangannya perlu direnovasi, maka kirim bantuan. Tapi karena status (lahan) itu tidak bisa dibangun dananya dikembalikan," ucapnya saat ditemui di SLBN A Kota Bandung, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Kamis (15/8/2019).

Mengetahui kondisi yang ada, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sempat mengajukan surat permohonan hibah ke Kementerian Sosial. Ridwan Kamil mengajukan empat alasan dalam surat permohonan hibah itu.

SLB Tertua di Asia Tenggara Terancam Digusur KemensosFoto: Mochamad Solehudin
Pertama sejak 1901 kemudian 1962 SLB berstatus negeri telah berada di lokasi sekarang. Kemudian dalam sertifikat yang dimiliki Kemensos peruntukannya jelas. Selama digunakan sesuai peruntukan seperti SLB, masjid, gereja dan asrama tidak bisa diusir.

Kemudian pada 2001 saat Kementerian Sosial dibubarkan aset lahan ini juga sempat dihibahkan ke Provinsi Jabar. Dan terakhir mengenai nilai sejarah SLB ini merupakan yang tertua di Asia Tenggara.

"Maka pada 9 Juli gubernur berbaik hati layangkan surat (permohonan hibah). Oleh menteri langsung dijawab SLB tidak bisa di sini," ucapnya.

Triabagio yang juga menjabat sebagai Ketua III DPP Persatuan Tuna Netra Indonesia hanya berharap segera ada solusi terbaik terkait masalah ini. Karena bagaimanapun kegiatan belajar meski sejauh ini tidak ada masalah tetap harus berjalan dengan baik ke depannya.

"Kami kalau boleh berharap, ada win-win solution. Dicarikan alternatif yang terbaik. Kalau berharap ya tetap di sini, tapi dicarikan alternatif regulasi yang baik. SLB bisa membangun, tidak terkatung-katung," katanya.

SLB Tertua di Asia Tenggara Terancam Digusur KemensosFoto: Mochamad Solehudin
Karena selama ini pihaknya kesulitan untuk melakukan penataan bahkan memperbaiki beberapa bagian bangunan yang mulai rusak. "Bayangkan saja ini bangunan dari tahun berapa, sampai sekarang belum bisa direvitalisasi. Renovasi dilakukan tapi hal-hal yang kecil," ucapnya.

Dia menambahkan, saat ini jumlah siswa yang ada di SLB totalnya sebanyak 75 orang. Mereka merupakan siswa dari jenjang SD, SMP dan SMA. Dengan jumlah ruang kelas 6 SD, 3 SMP dan 6 SMA.

"Sebenarnya bisa lebih tapi karena kelas terbatas. Dulu pernah 120 siswa. Siswa kami yang berada (tinggal) di asrama ada 28," ujarnya.



Tonton video saat Melihat Keseruan Siswa SLB Meracik Kue dan Cokelat:

[Gambas:Video 20detik]


(mso/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed