detikNews
Sabtu 03 Agustus 2019, 19:18 WIB

Peneliti ITB: 50 Tahun Lagi Bandung Terancam Krisis Air Tanah

Mukhlis Dinillah - detikNews
Peneliti ITB: 50 Tahun Lagi Bandung Terancam Krisis Air Tanah Ahli Geodesi ITB Heri Andreas/Foto: Mukhlis Dinillah
Bandung - Ahli Geodesi ITB Heri Andreas memprediksi Kota Bandung dalam 50 tahun mendatang akan mengalami krisis air tanah. Padatnya penduduk dan minimnya sumber air lain membuat pengambilan air tanah di Kota Bandung cukup masif.

Heri mengatakan berdasarkan pengamatannya, air tanah di Kota Bandung mengalami penurunan dua meter per tahun. Bukan tidak mungkin kalau kondisi ini terus berlangsung, air tanah akan habis dalam kurun waktu 50 tahun ke depan.

"Nah suatu saat akan habis, ini pas dihitung 50-100 tahun ke depan. Kalau sudah abis ya sudah tidak akan dapat air dan ini krisis," kata Heri dalam kegiatan 'Ngobrol Serius Kebencanaan' di Taman Hutan Raya, Kota Bandung, Sabtu (3/8/2019).

Ia menuturkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening juga memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, sumber air permukaan seperti situ atau danau sangat terbatas apalagi saat musim kemarau.

"Jadi problemnya itu makin banyak orang butuh air dan PDAM tidak bisa menyediakan selain air tanah ya habis lah. Istilahnya untuk isi ulang (air tanah) itu butuh ratusan tahun," ungkap dia.

Menurutnya sumber air permukaan seperti sungai-sungai yang ada di sekitar Kota Bandung kondisinya mengakhawatirkan. Pencemaran limbah membuat kualitas air tidak laik untuk diminum dan membutuhkan waktu serta biaya besar untuk mengolahnya.

"Kalau harus cari sumber lain, tapi sumbernya juga susah seperti (sungai) Citarum terkontaminasi, danau (terbatas) tidak ada gantinya pakai apa kan kita belum tahu nanti. Air permukaan memang belum optimal," tutur dia.

Ia menuturkan salah satu cara yang harus dilakukan pemerintah untuk mencegah krisis tersebut yaitu mengoptimalkan air hujan. Salah satunya dengan membuat rainwater harvesting (pemanenan air hujan).

"Ini belum penah ada rainwater harvesting, ini penampungan air, jadi ketika hujan air itu ditampung sehingga ketika kekeringan ini tinggal diambil. Tidak pernah menjadi program," ucap dia.

Cara lainnya yakni dengan mengolah kembali air bekas penggunaan rumah tangga. Negara-negara maju seperti Jepang sudah menerapkan pola serupa agar penggunaan air bisa optimal.

"Misalnya kalau air mandi bisa dipakai lagi untuk mandi. Kemudian pembersihan air di sungai jadi bisa digunakan, kemudian menjaga waduk tetap ada," ujar Heri.




Tonton Video Bendung Lekopancing Kering, Warga Maros Terancam Krisis Air:

[Gambas:Video 20detik]


(mud/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com