Hemolife-BPJS MoU Beri Pelayanan Pasien Cuci Darah di Bandung

Hemolife-BPJS MoU Beri Pelayanan Pasien Cuci Darah di Bandung

Mukhlis Dinillah - detikNews
Rabu, 31 Jul 2019 20:48 WIB
MoU BPJS Kesehatan Bandung dengan Hemolife. (Foto: Mukhlis Dinillah/detikcom)
MoU BPJS Kesehatan Bandung dengan Hemolife. (Foto: Mukhlis Dinillah/detikcom)
Bandung - BPJS Kesehatan memperluas pelayanan untuk hemodialisis (cuci darah penderita gagal ginjal) khususnya di wilayah Bandung Raya. Salah satunya dengan menggandeng klinik khusus menangani pasien cuci darah.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bandung M Cucu Zakaria jumlah penderita gagal ginjal bertambah sekitar 18 ribu setiap tahunnya. Selain biaya cuci darah yang mahal, fasilitas untuk melayani penyakit tersebut sangat terbatas.


Menurutnya banyak di antara para penderita merupakan warga kurang mampu. Ia mengungkapkan biaya yang harus dikeluarkan pasien yang tak ditanggung BPJS bisa mencapai Rp 1,5 juta setiap cuci darah.

"Sekali cuci darah itu Rp 800 ribu sampai Rp 1,5 juta. Para penderita seminggu harus dua kali cuci darah," kata Cucu usai acara kerja sama BPJS Kesehatan dan Hemolife Klinik Hemodialisa di Jalan A. H. Nasution, Kota Bandung, Rabu (31/7/2019).

Meski mahal, ia memastikan saat ini penyakit hemodialisis ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Pelayanan yang diberikan dan mekanismenya dipastikan sama dengan pasien jalur mandiri.

Saat ini, pihaknya fokus memperluas pelayanan untuk penyakit hemodialisis agar merata, tidak hanya di kota saja. Sehingga, pihaknya menjalin kerja sama dengan Hemolife Klinik Hemodialisa di wilayah Bandung Timur. Kerja sama terkait pelayanan hemodialisis ini merupakan yang kedua di wilayah Bandung Raya.

"Tujuan kita agar semakin banyak pelayanan kesehatan yang bisa diberikan," kata Cucu.


Di tempat yang sama, Dirut Hemolife Klinik Hemodialisa, Suriyanto, mengaku siap melayani penderita hemodialisis. Saat ini, kliniknya memiliki lima mesin pencuci darah yang siap digunakan setiap hari.

Dengan jumlah tersebut, dalam setiap pekan diprediksi mampu melayani hingga 15 pasien. "Kita siap melayani dua shift, sesuai permintaan, jadi sekitar 30 pasien per minggu," katanya.


Disinggung mengenai kekhawatiran persoalan dalam pembayaran dari BPJS Kesehatan yang selalu defisit setiap tahun, Suriyanto memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.

"Kalau ada keterlambatan, saya rasa wajar. Saat ini BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan perbankan untuk memperlancar pembayaran ke rumah sakit," ucap Suriyanto. (mud/tro)