detikNews
Minggu 14 Juli 2019, 09:50 WIB

Warga Cihaurgeulis Bandung Ubah Sampah Jadi Pupuk hingga Tas

- detikNews
Warga Cihaurgeulis Bandung Ubah Sampah Jadi Pupuk hingga Tas Melihat pemanfaatan sampah warga Cihaurgeulis Bandung (Foto: Annisa Nursalsabillah)
Bandung -
Kelurahan Cihaurgeulis merupakan salah satu wilayah percontohan program Kang Pisman dari 151 kelurahan di Kota Bandung. Kelurahan yang memiliki 12 RW dan 68 RT ini, sudah menerapkan pemisahan sampah di setiap rumah tangganya. Tak heran, bila setiap warganya memiliki kreativitas yang tinggi dalam memanfaatkan sampah.

Lurah Cihaurgeulis, Juju, mengatakan sampah di Kelurahan Cihaurgeulis yang terbuangnya hanya sekitar 15-20 persen dan sisanya telah dipisahkan sendiri di rumah warga masing-masing.

"Hampir 80% semua warga di kelurahan ini sudah menerapkan Kang Pisman, mengurangi, memisahkan dan memanfaatkan sampah," ujar Juju kepada detikcom, Minggu (14/7/2019)

Seperti yang dilakukan di RW 07 Kelurahan Cihaurgeulis, sampah organik sudah dipisah sendiri dan mereka simpan di satu wadah yang kemudian akan dijadikan kompos dengan metode bata terawang dan drum komposter.

"Jadi ada relawan pengangkut sampah organik yang akan ngambil ke rumah-rumah, kan warganya udah misahin sendiri, lalu dikumpulkan di sini (pusat kegiatan kang pisman) setiap Senin dan Kamis. Nanti kami pilah mana yang langsung bisa masuk bata terawang, mana yang enggak. Kalau yang enggak itu biasanya sampah sayuran yang besar yang perlu dipotong-potong lagi supaya lebih mudah pembusukannya," ujar Ketua RW 07 Kelurahan Cihaurgeulis, Russell.

Melihat pemanfaatan sampah warga Cihaurgeulis BandungMelihat pemanfaatan sampah warga Cihaurgeulis Bandung Foto: Annisa Nursalsabillah

Waktu yang dibutuhkan untuk panen kompos kurang lebih 2 bulan dari mulai sampah organik dimasukkan ke dalam bata terawang dan drum komposter. Nantinya, pupuk kompos itu digunakan warga untuk menanam sayuran, buah, bunga dan tanaman lainnya. Tak heran bila RW 07 ini memiliki banyak tanaman yang subur.

"Hasil pemanenan kompos dijemur dulu sampai agak kering. Habis itu diayak, kemudian dipisahin kompos yang lembut dan kasar. Kalau yang lembut bisa langsung jadi media pembibitan tanaman organik, kalau yang kasar buat tanaman stek biasanya," sambungnya.

Lain halnya dengan yang dilakukan Ketua Pokja 3 Cihaurgeulis, Sri Asih. Dengan kreativitasnya, ia memanfaatkan setiap sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat. Seperti bekas bungkus kopi, sabun, keresek dan semacamnya dijadikan tikar, celemek, baju, tas dan kerajinan tangan lainnya.

"Kalau sampah dimanfaatkan dengan baik, nilai nya pun berubah jadi tinggi dan lebih dihargai," ujar Sri Asih (57) saat dijumpai detikcom di kediamannya di RW 06 Kelurahan Cihaurgeulis.

Sri menyampaikan bahwa memanfaatkan sampah itu sangat mudah. Hanya dengan bermodalkan gunting dan haken, ia dapat mengubah semua sampah plastik menjadi barang berguna. Setiap sampah plastik ia kumpulkan, lalu dibersihkan dan siap dikreasikan. Sri juga kerap kali mengedukasi kader-kader RW di sekitarnya, memberikan ilmunya dalam mendaur ulang sampah anorganik dan menjadi contoh bagi warga sekitar.

Beberapa warga di sini juga menjadikan sampah sebagai 'sedekah sampah' dengan cara memberikan sampah yang sudah dibersihkan kepada tukang sampah untuk bisa dijual kembali.


Simak Video "Rusia Berperang Hadapi Masalah Sampah"
[Gambas:Video 20detik]

(Annisa Nursalsabillah/mud)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed