6 Strategi Ini Diklaim Polres Bandung Bikin Mudik 2019 Lancar

Wisma Putra - detikNews
Senin, 10 Jun 2019 12:17 WIB
Polisi berjaga di jalur mudik Nagreg. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Kabupaten Bandung - Polres Bandung mengklaim arus mudik dan balik Lebaran 2019 di jalur selatan Jawa Barat lebih lancar dibandingkan 2018. Ada enam strategi yang diterapkan polisi dalam mengantisipasi arus mudik-balik kendaraan.

Kasatlantas Polres Bandung AKP Hasby Ristama mengatakan sejak sepekan sebelum Lebaran hingga Senin (10/6/2019), hanya terjadi sekali kemacetan parah yaitu pada Lebaran hari kedua. Sisanya, kata dia, lalu lintas di jalur selatan ini ramai lancar.

"Kami menerapkan enam pendekatan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di bawah wilayah hukum Polres Bandung, yaitu mulai jalur Cileunyi hingga Nagreg," ucap Hasby.


Enam strategi pendekatan itu diberlakukan polisi bekerja sama dengan unsur lainnya. "Pendekatan pertama, yakni dengan menerapkan skema lalu lintas satu jalur atau one way. Skema itu dilakukan tiap kali jalur Nagreg mengalami kepadatan. Bahkan, hari kemarin kami sudah melakukan sistem one way sebanyak tiga kali. Dari arah Garut dan Tasik menuju Bandung via Nagreg, kami terapkan one way," tuturnya.

Permasalahan lalu lintas di jalur selatan ini kerap terjadi saat arus balik. Terowongan Lingkar Nagreg menjadi salah satu permasalahan. Pendekatan kedua, pihaknya mensterilkan lokasi tersebut karena sering kali pemudik berhenti di tepi jalan untuk swafoto.

"Kami turunkan petugas untuk berjaga di sana dan mengingatkan pemudik untuk tidak berhenti dan selfie (di Terowongan Lingkar Nagreg). Karena itu bisa menjadi hambatan. Sebelum jembatan Nagreg itu jalurnya tanjakan cukup panjang. Apabila ada hambatan, akan menjadi kepadatan yang parah," ujar Hasby.

6 Cara Ini Diklaim Polres Bandung Bikin Mudik 2019 LancarTerowongan Lingkar Nagreg. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Pada arus balik, ia menjelaskan, Jalan Raya Nagreg diubah menjadi tiga lajur arah Garut-Bandung dan satu lajur arah sebaliknya. Pendekatan ketiga, Jalan Raya Nagreg yang mulanya dipakai dengan sistem dua banding dua (masing-masing dua lajur ke arah timur dan barat), diubah menjadi tiga banding satu lajur.

"Tiga lajur untuk laju kendaraan menuju Jakarta dan Bandung, sementara satu jalur untuk kendaraan yang mengarah ke Garut dan Tasikmalaya," katanya.


Tak hanya pembagian lajur, polisi menerapkan pendekatan keempat yakni kanalisasi aktivitas warga di daerah Rancaekek dan Cileunyi. Pola kanalisasi dengan cara memasang seutas tali itu untuk membatasi gerak masyarakat yang hendak menyeberang.

"Kanalisasi juga berfungsi untuk membatasi masyarakat yang hendak menyeberang jalan. Biasanya, itu yang membuat daerah pasar dan persimpangan menjadi penyebab kemacetan," ucap Hasby.

Permasalahan lain di kawasan Cileunyi ada terminal bayangan. Untuk strategi pendekatan kelima, personel Polres Bandung mensterilkan persimpangan Cileunyi yang biasanya riuh akibat adanya terminal bayangan.

"Karena ada terminal bayangan yang cukup padat, masyarakat juga banyak yang menunggu kendaraan di sana. Jadi kami bersihkan dan atur rapi, sehingga kemacetan karena gerbang tol tidak lebih dari 20-30 meter saja," ujarnya.


Gerbang Tol Cileunyi juga salah satu penyebab kemacetan lalu lintas lantaran sering terjadi penumpukan kendaraan di pintu tol tersebut. Melalui pendekatan keenam, agar tidak terjadi kemacetan, sambung Hasby, pihaknya berkoordinasi dengan Jasa Marga untuk memaksimalkan gerbang tol menjadi delapan pintu.

"Bahkan, apabila delapan gerbang tol masih membuat macet, kami maksimalkan dengan penambahan card reader," kata Hasby. (bbn/bbn)