detikNews
Selasa 21 Mei 2019, 06:42 WIB

Melihat Pabrik Kertas yang Cemari Lingkungan Namun Tetap Produksi

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Melihat Pabrik Kertas yang Cemari Lingkungan Namun Tetap Produksi Sampah plastik impor yang dijadikan bahan baku PT Pindo Deli III/Foto: Luthfiana Awaluddin
Karawang - Larangan produksi PT Pindo Deli 3 oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten (DLHK) Karawang dianggap angin lalu. Hingga kini belum ada aparat yang menindaklanjuti keputusan yang keluar April lalu. Pabrik kertas anak usaha Sinar Mas Group itu terus memproduksi brown paper atau kertas cokelat yang bahan bakunya dari sampah impor.

Gunungan sampah impor itu berjejer di sepanjang jalan menuju pabrik di Desa Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan, Karawang.

"Tumpukan sampah ini adalah ekses atau buangan bagian dari bahan baku brown paper. Ada kaleng, plastik, alumunium dan sejenisnya," kata Mei Yudi Pransuri, bagian produksi castcoat PT Pindo Deli 3 saat ditemui di Desa Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan, Senin (20/5/2019).

Yudi menuturkan, sampah tersebut bakal kembali diangkut ke dalam pabrik untuk dimusnahkan oleh pihak ketiga. Lantas mengapa sampah itu bisa menumpuk di lahan warga?

"Kami sudah menunjuk vendor dari sini, tapi nyatanya tidak dimusnahkan. Makanya kami ambil kembali sebagai upaya menangani permasalahan sampah ini," kata Yudi.

Sementara itu di dalam pabrik, masih banyak sampah impor. Pantauan detik, sampah - sampah itu diikat dan dibentuk seperti kubus. Kemudian ditumpuk hingga menggunung lebih dari tinggi orang dewasa. Gunungan sampah nampak memanjang di sepanjang jalan pabrik. Bahkan jalan tersisa hanya satu ruas. Menggunakan forklift, sejumlah pekerja hilir mudik mengangkut kubus sampah itu ke dalam pabrik.

Berdasarkan salinan Adendum Andal Pindo Deli 3 tahun 2018 yang diterima detik, sampah impor didatangkan seiring perubahan produksi di pabrik tersebut. Mulanya pabrik itu memproduksi 900 ribu ton kertas putih per tahun menjadi 300 ribu ton per tahun.

Dalam dokumen itu, disebutkan jika Pindo Deli 3 membutuhkan 10.800 ton pulp impor dengan tipe mixed paper, atu campuran kardus, koran dan majalah. Ribuan ton pulp itu kemudian menghasilkan 11,11 persen sampah plastik setiap bulan.

Sampah itu kemudian dijual dan dikelola warga sekitar. Namun hanya 60 persen yang bisa didaur ulang. Sisanya berceceran dan berserakan di lahan warga. Bahkan diduga sampah berceceran hingga Sungai Cibeet. Alhasil 10 hingga 15 persen sampah berpotenai mencemari daerah aliran sungai Cibeet di Tamansari.

"Makanya kami mengangkut kembali sampah non ekonomis ini sesuai arahan Satgas Citarum Harum," kata Yudi.

Selain persoalan gunungan sampah ini, pabrik kertas itu juga terbukti membuang limbah cair ke Sungai Cibeet yang bermuara ke Sungai Citarum. Karenanya, DLHK Karawang memutuskan untuk melarang pabrik itu produksi karena telah mencemari lingkungan.

Keputusan itu tertuang dalam surat No. 660.1/927/PPL yang ditandatangani Wawan Setiawan, Kepala DLHK pada tanggal 29 April 2019. Miris, karena awal Mei lalu, PT Pindo Deli kembali membuang limbah cairnya ke sungai, sehingga DLHK meminta Satpol PP menyegel pabrik tersebut. Permohonan penindakan itu disampaikan ke Satpol PP melalui surat No.180/981/PPL tertanggal 7 Mei 2019. Namun hingga kini belum ditindaklanjuti.
(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed