DetikNews
Sabtu 18 Mei 2019, 03:12 WIB

Cerita Tradisi 7 Pria Serempak Azan di Masjid Sang Cipta Rasa

Sudirman Wamad - detikNews
Cerita Tradisi 7 Pria Serempak Azan di Masjid Sang Cipta Rasa Tujuh muazin tengah mengumandangkan azan secara bersamaan (Foto: Sudirman Wamad)
Cirebon - Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tradisi unik, yakni 'azan pitu' alias azan tujuh saat salat Jumat. Sesuai namanya, azan tujuh dikumandangkan serempak oleh tujuh muazin yang semuanya pria. Azan tujuh bagian tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Salah seorang muazin azan tujuh yang juga pengurus DKM Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Moh Ismail, berkisah soal asal-usul tradisi tersebut. Menurut Ismail, azan tujuh merupakan siasat Nyi Mas Pakung Wati, istri dari Sunan Gunung Jati, saat Masjid Agung Sang Cipta Rasa mendapat serangan dari Menjangan Wulu.

Ismail menceritakan Menjangan Wulu merupakan tokoh sakti yang cemburu lantaran banyak masyarakat Cirebon berbondong-bondong memeluk Islam. Ornamen masjid yang kental dengan agama Hindu membuat masyarakat penasaran untuk datang ke masjid. Terlebih lagi saat azan dikumandangkan, masyarakat yang saat itu belum memeluk penasaran.

"Mereka (masyarakat) masuk Islam. Menjangan Wulu ini tidak suka dengan kondisi tersebut. Akhirnya mencari tahu kenapa banyak orang datang ke masjid, kesimpulannya karena azan," kata Ismail saat berbincang dengan detikcom di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (17/5/2019).

Akhirnya, Menjangan Wulu melancarkan siasat liciknya agar azan tak berkumandang di masjid. Melalui kesaktiannya, Menjangan Wulu menaruh racun di atas masjid.

"Racun itu bereaksi ketika ada orang azan. Menyerang muazin, mengakibatkan sakit. Akhirnya tak bisa azan. Kemudian Nyi Mas Pakung Wati memerintah agar muazinnya itu jangan satu," kata Ismail.

Cerita Tradisi 7 Pria Serempak Azan di Masjid Sang Cipta RasaTradisi unik yang disebut 'azan pitu' ini berlaku saat salam jumat (Foto: Sudirman Wamad)
Instruksi Nyi Mas Pakung Wati pun langsung dilaksanakan. Azan pun dikumandangkan oleh dua orang. Namun tetap tak bisa menghindar dari serangan racun.

"Sampai enam orang yang azan, tetap terkena serangan racun. Kemudian, tambah lagi. Yang azan jadi tujuh orang, ternyata sampai selesai. Tidak ada serangan racun," ucap Ismail.

Saat azan dikumandangkan oleh tujuh muazin, dikatakan Ismail, tiba-tiba dari atap masjid terdengar ledakan keras dari racun milik Menjangan Wulu itu. Azan tujuh pun berlanjut setiap kali salat lima waktu. Tujuannya untuk mengantisipasi serangan susulan.

"Setelah sudah kondusif, azan tujuh dialihkan hanya untuk salat jumat. Sampai sekarang masih kita kumandangkan," katanya.

Ismail menyebutkan awalnya muazin yang dipilih untuk mengumandangkan azan tujuh adalah para jemaah masjid, karena kondisi terdesak pasalnya sejumlah muazin terkena serangan racun. Saat ini, dikatakan Ismail, muazin azan tujuh merupakan keturunan dari muazin terdahulu.

"Sekarang turun temurun, kalau saya itu kakek yang pernah jadi muazin di sini," ujar Ismail.

Kado untuk Istri Sunan Gunung Jati

Usai bercerita tentang kisah azan tujuh, Ismail melanjutkan kisahnya tentang sejarah berdirinya Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Namun, menurut Ismail, tak banyak literatur yang menjelaskan secara rinci tentang sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Ismail menyebutkan masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1480.

"Pembangunan masjid ini inisiatif Sunan Gunung Jati untuk istrinya, Nyi Mas Pakung Wati, intinya sih hadiah buat istrinya," kata Ismail.

Cerita Tradisi 7 Pria Serempak Azan di Masjid Sang Cipta RasaMasjid Agung Sang Cipta Rasa menjadi saksi bisu dimulainya tradisi tersebut (Foto: Sudirman Wamad)
Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tiang penyangga yang terbuat dari kayu. Ukuran tiangnya besar-besar. Menurut Ismail, arsitektur masjid tersebut ialah Sunan Kalijaga dan Raden Sepat.

"Raden Sepat ini bukan muslim, penganut Hindu katanya. Makanya ada nuansa Hindu di masjid ini," tuturnya.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dikatakan Ismail awalnya bernama Masjid Pakung Wati. Menurutnya nama masjid berubah sekitar tahun 1970. "Karena ini kan persembahan buat istri Sunan Gunung Jati, jadi awalnya bernama Masjid Pakung Wati," kata Ismail.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed