DetikNews
Kamis 09 Mei 2019, 14:39 WIB

Indonesia Hanya Miliki 50 Pengajar Alquran Braille

Yudha Maulana - detikNews
Indonesia Hanya Miliki 50 Pengajar Alquran Braille Tenaga pengajar Alquran Braille di Indonesia hanya 50 orang, sedangkan ada sekitar 3.000 SLB yang memiliki kurikulum membaca Alquran. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung Barat - Tenaga pengajar Alquran Braille di Indonesia masih jauh dari kata cukup. Saat ini hanya ada 50 pengajar, sedangkan ada sekitar 3.000 Sekolah Luar Biasa (SLB) yang memiliki kurikulum membaca Alquran di Indonesia.

Ketua Umum Ummi Maktum Voice (UMV) Ustaz Entang Kurniawan mengungkapkan hal itu berdampak pada jumlah pembaca Alquran Braille yang masih relatif sedikit di Indonesia.
Dari statistik Kementerian Pendidikan, kata Entang, jumlah disabilitas netra masih berada di bawah angka 10 persen yang mendapatkan pendidikan cara membaca Alquran Braille. Sementara populasi disabilitas netra mencapai 3,5 juta.

"Tentu, jika dilihat dari persentase jumlah tersebut sangat minim sekali," kata Entang saat ditemui usai pelatihan membaca Alquran Braille di BBPPKS, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (9/5/2019).
Indonesia Hanya Miliki 50 Pengajar Alquran BrailleFoto: Yudha Maulana
Yayat Ruhiyat, Pekerja Sosial dari Wyata Guna mengatakan saat ini jumlah tenaga pengajar Alquran Braille di Indonesia sekitar 50 orang. "50 orang itu secara nasional, sedangkan SLB ada ribuan. Belum lagi yang non formal, seperti pesantren dan komunitas," katanya.

Menurut Yayat, perlu ada pelatihan khusus bagi penyandang disabilitas netra yang terbiasa membaca Alquran Braille agar menularkan kemampuanya kepada yang lain.
Kepala Lajnah Pentashihan Alquran Kemenag Dr Muchlis M Hanafi mengakui pengajaran Alquran Braille di Indonesia masih belum maksimal.

Oleh karena itu pihaknya menggenjot program Training on Trainer (TOT) untuk menularkan semangat mempelajari Alquran Braille. Salah satunya melalui kegiatan Braille Camp yang digelar pada 8-12 Mei di BBPPKS.

"Tahun lalu ada sebanyak 40 orang yang ikuti training guru Braille. Itu kami lakukan guna memacu ketersediaan tim pengajar di Indonesia," katanya.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed