Dikritik TKN, UKRI Tegaskan Surveinya Bukan Pesanan Prabowo-Sandi

Mochamad Solehudin - detikNews
Jumat, 12 Apr 2019 17:26 WIB
Foto: Mochamad Solehudin
Bandung - Lembaga Afiliasi Penelitian dan Teknologi (Lapitek) Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) menegaskan survei elektabilitas pasangan capres-cawapres yang dirilisnya, bukan pesanan dari pasangan Prabowo-Sandi. Sumber anggaran penelitian dalam survei juga murni dari Universitas.

Kamis (11/4/2019),Lapitek UKRI merilis hasil survei terkait elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi. Hasilnya elektabilitas pasangan 02 unggul dari pasangan 01 dengan selisih 26 persen. Prabowo-Sandi 63 persen, Jokowi-Ma'ruf 37 persen.


Lapitek UKRI sendiri merupakan lembaga internal dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI). Dalam situs resminya, Prabowo Subianto adalah Ketua Yayasan dari universitas tersebut.

Hasil survei itu mendapat kritikan dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf. Mereka merasa heran dengan hasil survei yang menempatkan pasangan Prabowo-Sandi unggul dengan selisih cukup jauh mencapai 26 persen.

"Itu menyenangkan hati Pak Prabowo, good luck on them. Kenapa tidak sekalian buat hasil yang sempurna?" kata Wakil Ketua TKN Johnny G Plate kepada wartawan, di Jakarta, Kamis (11/4/2019).


Johnny menilai survei tersebut merupakan bagian dari kepanikan kubu Prabowo-Sandi. Dia meyakini yang sebenarnya terjadi elektabilitas Prabowo-Sandi stagnan.

Ketua LPPM sekaligus perwakilan Lapitek UKRI Rochmanija Setiadi tidak mau ambil pusing dengan kritikan yang disampaikan oleh beberapa pihak.

"Kita bisa buktikan ini kajian akademis," ujarnya saat dihubungi, Jumat (12/4/2019).

Dia cukup menyadari survei yang dirilisnya itu akan menjadi sorotan. Apalagi UKRI sendiri tidak bisa dipisahkan dengan sosok Prabowo Subianto yang menjabat sebagai ketua yayasan.

"Memang ada beban, tidak bisa kami hindari Ketua Yayasan adalah beliau (Prabowo Subianto). Tapi kita diminta untuk selalu mengedepankan kaidah akademis. Karena ini lembaga akademi bukan politik," kata Rochmanija.

Pihaknya kembali menegaskan, survei yang dikeluarkannya itu adalah hasil kajian akademis. Dia juga memastikan surveinya itu bukan pesanan dari pihak tertentu.

"Landasan kami mengedepankan akademik, kajian ilmiah. Kami bukan ada pesanan. Biaya yang kami (keluarkan) untuk lakukan survei pakai dana pengabdian dan penelitian murni dari universitas," tandasnya.

Menurut Rochmanija, survei yang dilakukannya itu merupakan bagian dari bentuk pengabdian dunia akademisi dalam peta demokrasi lima tahunan ini. Dia bersama timnya ingin mencoba mengimplementasikan keilmuan yang dimiliki untuk ikut mengkaji peta politik saat ini.

"Ini adalah peran serta kami dari akademisi dalam pesta demokrasi," jelasnya.

Soal kritikan, Rochmanija mengatakan akan menjadikan kritikan itu sebagai bahan masukan untuk evaluasi dalam survei atau penelitian ke depan.

"Sah-sah saja (adanya kritikan), kita tanggapi itu jadi bahan evaluasi yang kita lihat," ucapnya. (mso/ern)