Melalui sentuhan tangannya, limbah bambu yang awalnya dibiarkan menumpuk, disulap menjadi sebuah karya seni yang indah dan memiliki kegunaan. Mulai dari gelas, teko hingga pajangan yang bernilai seni tinggi.
"Awalnya dari kepedulian saja, biasanya limbah bambu di sapu lalu dibakar atau dibuang. Saya coba-coba untuk membuat sesuatu yang bisa bermanfaat sekaligus memiliki nilai seni, dari iseng ternyata keterusan," kata Yudistira kepada detikcom di kediamannya, Kampung Ciloa, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Jawa Barat, Minggu (31/3/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Limbah bambu disulap menjadi barang berharga. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom) |
"Awalnya niat bikin buat sendiri, asbak, tempat sendok lalu saya pajang di media sosial. Teman-teman malah banyak yang pesan, ya sudah saya buatkan eh akhirnya keterusan," katanya sambil tertawa.
Yudi tidak mematok harga untuk setiap hasil karyanya, namun tidak sedikit pemesan yang menghargai satu karyanya mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 250 ribu.
"Satu set teko dan gelas saya pernah dikasih bayaran Rp 250 ribu, eh lama-lama patung ukiran bonggol kelapa yang saya campur dengan bambu juga dihargai segitu. Pemesan kebanyakan dapat info dari media sosial, kemudian menghubungi dan minta dibuatkan bentuk sesuai keinginannya," tutur Yudi.
Sejumlah hasil karya dari bahan limbah. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom) |
"Karya kreatif ini juga bertujuan memantik para pemuda yang tinggal di sekitar kawasan pantai, daripada limbah-limbah kayu ini dibiarkan mengganggu pemandangan lebih baik dibuat sesuatu yang bernilai seni dan memiliki daya jual tinggi," ujar Yudi. (sya/bbn)











































Limbah bambu disulap menjadi barang berharga. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Sejumlah hasil karya dari bahan limbah. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)