Ketua PCNU Kabupaten Pangandaran Kyai Fauzan Aziz Muslim berpendapat, sejauh ini, ketersediaan fasilitas peribadatan Islam di kawasan wisata belum cukup ideal. Namun begitu, Fauzan memaklumi kondisi tersebut mengingat Kabupaten Pangandaran sebagai daerah pemekaran baru.
"Kita akan dorong pemerintah memiliki kebijakan ke arah sana. Baiknya memang musala itu di luar (hotel). Selain memudahkan akses, juga menjadi warna religi," ujar Fauzan kepada detikcom usai peringatan Harlah ke-96 NU di Islamic Center Pangandaran, Sabtu (23/3/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tujuannya tentu agar warga Pangandaran, termasuk warga nahdliyin tidak terpengaruh oleh budaya negatif yang dibawa oleh wisatawan dari luar," kata Fauzan.
Tak hanya sebatas harapan, kata Fauzan, NU Kabupaten Pangandaran secara kelembagaan juga ikut terjun untuk mewarnai nilai religi dalam wisata Pangandaran. Saat ini, ia menyampaikan, NU tengah membangun rest area berupa kompleks masjid di sekitar obyek wisata Green Canyon.
"Ini bentuk kepedulian kami, kontribusi NU untuk menciptakan Pangandaran tetap religius, walaupun mengandalkan sektor pariwisata," kata Fauzan.
Di Kabupaten Pangandaran, Fauzan menggambarkan, NU merupakan ormas keagaamaan terbesar, dengan kepengurusan ranting di 93 desa yang ada di Kabupaten Pangandaran. Tak hanya itu, kata Fauzan, dari sisi kultur peribadatan, Islam Ahlusunah Wal Jamaah yang menjadi nilai-nilai NU diamalkan sekitar 75 persen warga.
Foto: Andi Nurroni |
NU Pangandaran Harmoni Jawa-Sunda
Terletak di wilayah timur Jawa Barat, Kabupaten Pangandaran berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Karena faktor geografis ini, sejak lama, telah banyak warga Jawa yang menetap dan beranak pinak di Pangandaran.
Pembauran harmonis komunitas Sunda-Jawa di Pangandaran, salah satunya ditemukan dalam organisasi keagamaan Nahdlathul Ulama.
Sebagai organisasi yang lahir dibidani para kyai dari tanah Jawa, NU memang punya tempat istimewa di kalangan komunitas Muslim Jawa.
Meski demikian, kedudukan NU yang telah menasional menjadikan organisasi keagamaan ini juga memiliki pengaruh yang kuat di Tanah Sunda, tak terkecuali di Pangandaran.
Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Pangandran Imam Ibnu Hajar menganggap pembauran komunitas Sunda dan Jawa dalam NU di Pangandaran sebagai sebuah keunikan.
Berdasarkan peta keberadaan pesantren yang menjadi basis massa NU, Imam menggambarkan, wilayah barat Pangandaran dikenal sebagai basis pesantren-pesantren besar berkultur Sunda. Sementara kultur Jawa, kata Imam, cukup kuat mewarnai pesantren-pesantren di kawasan timur Pangandaran.
"NU terbukti mampu menyatukan semua. Karena memang kalau dari sisi amaliah ahlusunah wal jamaah, Sunda dan Jawa tidak banyak berbeda, misalnya tahlilan, salawatan," kata Imam di sela peringatan Harlah ke-96 NU di Islamic Center Pangandaran, Sabtu (23/3/2019).
Sebagai sayap NU yang bergerak di bidang seni budaya, menurut Imam, Lesbumi sangat diuntungkan dengan kekayaan dua kultur yang ada di Kabupaten Pangandaran.
"Di Pangandaran, kadang kami membawakan musik religi hadrah berbahasa jawa, kadang juga angklung yang menjadi identias kultur Sunda kita gunakan untuk salawatan," kata alumnus Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogjakarta ini. (ern/ern)












































Foto: Andi Nurroni