DetikNews
Selasa 19 Maret 2019, 12:28 WIB

Kisah Rizky, Pengidap Pengecilan Otak yang Divonis Tak Bisa Sembuh

Wisma Putra - detikNews
Kisah Rizky, Pengidap Pengecilan Otak yang Divonis Tak Bisa Sembuh Rizky Firmansyah (8). (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Kabupaten Bandung - Rizky Firmansyah (8) pengidap pengecilan otak, asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, divonis tidak bisa sembuh secara medis. Bocah lelaki tersebut anak pasangan Azam (37) dan Kartini (32).

Saat bertandang ke rumahnya di Kampung Sadang RT 04 RW 16, Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/3/2019), Rizky nampak anteng duduk dipangkuan ayahnya. Meski banyak orang mengunjung kediamannya, Rizky tak dapat berkomunikasi sama sekali. Pandangannya matanya juga kabur.

Azam mengatakan Rizky divonis tidak bisa sembuh oleh dokter spesialis THT dan Anak RSUD Soreang. "Dokter sudah memvonis enggak bisa sembuh. Karena otaknya sudah kecil, sudah enggak bisa ditindak medis. Itu tahun 2017 lalu," tutur Azam.

Kisah Rizky, Pengidap Pengecilan Otak yang Divonis Tak Bisa Sembuh Kartini menemani anaknya, Rizky Firmansyah (8), yang mengidap pengecilan otak. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Selama ini Rizky sudah dibawa berobat ke sejumlah rumah sakit di antaranya RSHS Bandung hingga menjalani terapi di RSUD Soreang. Menurut Azam, istrinya tak pernah ada keluhan saat Rizky dalam kandungan. Namun saat baru lahir, kata dia, Rizky sempat koma.

"Waktu lahir tidak ada napas selama 40 menit. Dokter enggak memberi tahu, selama 40 menit itu betul-betul tidak ada nafas, kalau (detak) jantung ada," ucap Azam.

Kala itu, menurut dia, dokter tidak mengatakan apa pun soal kondisi Rizky. Pada 2017, saat Rizky menjalani pemeriksaan, dokter memvonisnya menderita pengecilan otak dan tidak bisa disembuhkan.

"Diketahuinya (idap pengecilan otak) pas usia 3-4 tahun. Sekarang Rizky umurnya sudah delapan tahun," ujarnya.

Kisah Rizky, Pengidap Pengecilan Otak yang Divonis Tak Bisa Sembuh Rizky Firmansyah divonis tak bisa sembuh. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
BPJS dimilikinya tidak difungsikan lagi karena sejak 2018 lalu Rizky sudah tak menjalani pengobatan medis. "Kondisi otaknya kecil, karena yang menggerakkan tubuhnya kan otak. Saya ingin anak saya sembuh," ucap Azam.

Azam bekerja sopir mobil rental, sedangkan istrinya hanya ibu rumah tangga. Rizky memiliki seorang adik yang berusia tiga tahun. Kini mereka menumpang tinggal di kediaman sang nenek Rizky.

Saban hari Rizky hanya menikmati susu karena tidak bisa mengunyah untuk memakan nasi. "Harapan untuk Rizky ada mukjizat. Kalau dari pemerintah ingin perhatian, karena sampai saat ini belum ada perhatian," ujar Azam.

Sekertaris Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) Desa Margahayu Tengah, Saeful Rahman, mengatakan bahwa Rizky mengalami down syndrome sejak lahir.

"Kasus ini sudah dari kelahiran. Menurut keterangan bidan tidak bisa dilahirkan di bidan, akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Astanaanyar Bandung. Dari awal, enam tahun ke belakang, sering diantar ke rumah sakit terus. Karena tidak ada obatnya untuk down syndrome, rumah sakit tidak bisa apa-apa," kata Saeful didampingi Sekcam Margahayu A Andi di kediaman Rizky, Selasa (19/3/2019).

Saeful mengungkapkan, down syndrome yang diderita Rizky sudah divonis oleh dokter tidak dapat sembuh. "Kondisi anak sudah seperti ini, kalau dikatakan tidak dapat sembuh ya tidak dapat sembuh. Down syndrome dari lahir," tutur Saeful.

Menurutnya, pihaknya sudah menangani permasalahan ini. Selain itu, permasalahan kemiskinan pun sudah dikoordinasikan dengan Dinas Sosial Kabupaten Bandung. Keluarga Rizky sudah memiliki bantuan BPJS KIS dari pemerintah, namun belum mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH). Saeful berujar untuk bantuan PKH butuh proses.

"Kalau dari kemiskinan untuk KIS sudah dapat. Kalau data BDT sudah masuk, kalau PKH perlu proses karena ada sistem yang dikeluarkan oleh Kemensos, update data per empat bulan. Data sudah masuk tinggal verifikasi di tingkat nasional karena yang mempunyai kewenangan kementerian," tutur Saeful.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed