Cerita Perjuangan Sunarti Lawan Obesitas hingga Tutup Usia

Tri Ispranoto - detikNews
Sabtu, 02 Mar 2019 18:49 WIB
Sunarti meninggal dunia setelah pulang dari RSHS Bandung. (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom)
Bandung - Sunarti (39), warga Kabupaten Karawang yang menderita obesitas ekstrem meninggal dunia pada Sabtu (2/3/2019) pagi. Satu hari sebelumnya, Jumat 1 Maret kemarin sore, Sunarti baru saja diperbolehkan pulang oleh tim dokter RS Hasan Sadikin (RSHS) karena kondisinya dianggap telah membaik.

Perempuan yang sebelumnya dirawat di RSHS itu hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah. Selama di rumah ia hanya bisa berbaring di kasur, sebab untuk bergerak pun Sunarti merasa kesulitan bahkan kerap sesak nafas.

Cerita Perjuangan Sunarti Lawan Obesitas hingga Tutup UsiaFoto: Luthfiana Awaluddin

Pada Rabu 30 Januari 2019 lalu, Sunarti dibawa oleh Dinkes Kabupaten Karawang untuk mendapat perawatan di RSUD Karawang. Dari pemeriksaan awal ia mengalami obesitas karena tak bisa menjaga pola makan.

"Selain dua piring nasi, dia juga ngemil makanan dengan protein tinggi seperti mi dan bakso. Dia juga jarang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan," kata Plt Kepala Dinkes Kabupaten Karawang Nurdin Hidayat saat itu.

Awalnya Sunarti hanya memiliki bobot 68 kg. Tapi semenjak sering ditinggal kerja oleh sang suami ke Jakarta, bobotnya terus bertambah hingga 148 kg. Kejenuhan itu membuatnya tak bisa mengontrol pola makan. "Semenjak tinggal sendirian, saya jadi banyak makan. Hobi saya diam di rumah, panggil tukang bakso dan mie ayam," ujar Sunarti saat masih dirawat di RSUD Karawang.

Saidah, ahli gizi RSUD Karawang yang memeriksa Sunarti menyebut pasiennya itu mengalami obesitas lantaran menjadikan makanan berkalori tinggi sebagai kudapan. Bahkan kadarnya lebih dari dua ribu kalori atau di atas rata-rata kebutuhan orang dewasa.

"Dia juga sangat jarang makan sayur dan buah-buahan," ucap Saidah.

Cerita Perjuangan Sunarti Lawan Obesitas hingga Tutup UsiaFoto: Mochamad Solehudin

Pada akhirnya, Kamis 31 Januari malam ia dirujuk ke RSHS. Plh Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Yana Ahmad Supriatna menilai jika Sunarti secara medis tidak memerlukan tindakan kegawat daruratan yang perlu tindakan segera.

Alasannya, karena Sunarti tidak mengalami penyakit yang perlu penanganan khusus. Justru ia hanya memerlukan bimbingan dalam memperbaiki pola makan dan gizi untuk menurunkan berat badannya.

"Edukasi juga diberikan, ya mungkin dengan rawat jalan. Tindakan medis itu macam-macam, ada konservatif atau tindakan diperbaiki berat badannya," ucap Yana.

Belakangan, kata Yana, Sunarti diketahui juga sering mengkonsumsi obat steroid. Obat tersebut biasanya dikonsumsi oleh masyarakat sebagai penghilang nyeri. Efeknya, obat tersebut bisa menimbulkan nafsu makan meningkat.

Selama berada di RSHS, Sunarti ditangani oleh 11 dokter ahli mulai dari anastesi, gizi, psikologi dan lainnya. Bahkan selama di rumah sakit ia harus menempati kasur khusus.

Setengah bulan berselang atau 18 Februari 2019, tim dokter melakukan tindakan medis berupa operasi bariatrik untuk mengecilkan lambung Sunarti. Operasi yang berjalan selama 15 menit itu berhasil menjadikan ukuran lambungnya menjadi 1/3 dari ukuran normal.

Dokter Spesialis Konsultan Bedah Digestif (bedah pencernaan) RSHS Reno Rudiman menjelaskan operasi tersebut dilakukan untuk mengurangi jumlah makanan yang masuk ke dalam lambung. Selain itu operasi tersebut juga mengurangi sensor lapar pada tubuhnya.

Selama dua minggu pasca operasi, Sunarti belum diperbolehkan mengonsumsi makanan keras. Dia hanya mendapat makanan cair. Setelah itu, secara bertahap diperbolehkan mengonsumsi makanan berat.

"Itu diperlukan untuk kesembuhan lambung yang dipotong," kata Reno.

Cerita Perjuangan Sunarti Lawan Obesitas hingga Tutup UsiaFoto: Luthfiana Awaluddin

Lama tak terdengar, tiba-tiba kabar duka datang. Sunarti meninggal dunia pada Sabtu 2 Maret pagi tadi di rumahnya. Sehari sebelumnya atau Jumat 1 Maret sore padahal ia baru saja diperbolehkan pulang oleh pihak RSHS karena dianggap kondisinya sudah mulai membaik.

"Meninggal Sabtu subuh sekitar pukul empat. Sunarti meninggal di rumahnya setelah keluar dari RSHS (RS Hasan Sadikin)," kata Asip Suhenda, Kepala Seksi Kesos Kecamatan Klari kepada wartawan di rumah duka.

Selain dinyatakan sehat, Sunarti disebut Asip dipulangkan karena kuota BPJS miliknya telah habis. "BPJS kan ada limitnya. Katanya sudah habis, makanya dianjurkan berobat jalan karena dokter bilang kondisi Sunarti sudah ada perkembangan," ucapnya.

Sementara itu dokter penanggung jawab pasien, Ervita, juga membenarkan jika saat pulang kondisi Sunarti telah membaik. Kondisinya sudah bisa duduk dan tidak lagi merasakan sesak nafas.

"Pasien dipulangkan karena kondisi sudah baik, bukan karena kuota BPJS habis. Keterangan lebih lengkap akan disampaikan (lebih lanjut)," ujarnya.
Dari informasi yang dihimpun pihak RSHS akan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan terkait hal tersebut. Namun belum jelas kapan hal tersebut akan dilakukan.

Kini Sunarti telah dimakamkan di pemakaman umum di Karawang. Ia dimakamkan tepat disamping makam ibunya pada Sabtu siang. (tro/bbn)