134 WNA Menetap di Sukabumi-Cianjur, Hanya 42 Orang Punya e-KTP

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kamis, 28 Feb 2019 16:13 WIB
Kepala Kantor Imigrasi Sukabumi Nurudin (tengah) menyampaikan keterangan kepada wartawan. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Sukabumi - Kantor Imigrasi Kelas II Sukabumi merilis data jumlah Warga Negara Asing (WNA) pemilik Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) yang menetap dan beraktivitas di Sukabumi dan Cianjur. Selain pernikahan campuran, tidak sedikit WNA yang berstatus sebagai pekerja.

Data disampaikan pihak Imigrasi terdapat 134 WNA pemegang KITAP yang terbagi di Kabupaten Sukabumi sebanyak 51 orang, Kabupaten Cianjur 65 orang dan Kota Sukabumi 18 orang.


Tercatat WNA asal China berjumlah 32 orang, Korea Selatan 21 orang, Arab Saudi 9 orang, Pakistan 7 orang, Belanda 6 orang, Australia dan Bangladesh masing-masing 5 orang. Lalu WNA Amerika Serikat 4 orang, Jerman, Yaman, India, Kuwait, Singapura dan Malaysia masing-masing 3 orang.

[Gambas:Video 20detik]


WNA Filipina, Perancis, Britania Raya, Rusia, Brazil dan Suriah masing-masing 2 orang. Selain itu, WNA Afghanistan, Iran, Tunisia, Palestina, Kamerun, Hongkong, Turki, Sudan, Afrika Selatan, Republik Ceko, Kanada, Komoro, Mesir, Selandia Baru dan Taiwan masing-masing 1 orang.

"Dari jumlah 134 itu, 108 di antaranya karena penyatuan keluarga beragam faktor mulai dari pernikahan campur, anak ikut orang tua, lansia dan banyak lagi. Kemudian sisanya atau 26 orang berstatus sebagai tenaga kerja (asing)," kata Kepala Kantor Imigrasi Sukabumi Nurudin di Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019).


Untuk sebaran WNA yang memiliki KITAP di Cianjur sebanyak 65 orang, Kabupaten Sukabumi 51 orang dan Kota Sukabumi 18 orang. Dari jumlah tersebut untuk WNA pemilik e-KTP hanya 42 orang yang rinciannya di Kabupaten Cianjur 17 orang, Kabupaten Sukabumi 16 orang dan Kota Sukabumi 9 orang.

"e-KTP digunakan untuk membuat rekening bank dan sebagai identitas kependudukan mereka. Kewenangan soal itu ada di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil)," ujar Nurudin.

Nurudin menegaskan kepemilikan KITAP melalui beragam aturan yang ketat dan dilakukan pengecekan langsung oleh petugas keimigrasian. Mekanisme WNA dalam memiliki KITAP harus melalui prosedur alih status yang berawal dari izin tinggal sementara atau KITAS.


Pengajuan dari KITAS menjadi KITAP tergantung dari WNA yang mengajukan, apabila dia seorang tenaga kerja kategori pemegang saham, minimal dengan saham Rp 1 miliar dan sudah tinggal selama 4 tahun, pada tahun ke lima baru bisa mengajukan alih status.

"Namun selain tenaga kerja, WNA juga bisa mengajukan KITAP dengan syarat menikah campur (dengan WNI) dengan kategori pernikahan sudah selama 2 tahun. Ini kita cek, mulai dari dokumen pernikahan, keterangan-keterangan dan banyak lagi. Kalau misalkan meragukan atau datanya tidak valid tentu tidak akan kita keluarkan KITAP nya," tutur Nurudin.

Kepemilikan e-KTP WNA menjadi sorotan publik. Padahal soal itu sudah teramanatkan dalam UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan. Syarat utama WNA mendapatkan e-KTP adalah adanya KITAP, selain itu dalam e-KTP yang dimiliki WNA terdapat perbedaan pada kolom kewarganegaraan dan adanya masa berlaku selama 5 tahun.


Simak Juga 'Heboh e-KTP WNA, DPR Sarankan Data Ekspatriat Diverifikasi':

(sya/bbn)