detikNews
Kamis 28 Februari 2019, 13:37 WIB

Dilan Corner Menuai Pro Kontra, Begini Penampakannya Saat Ini

Mochamad Solehudin - detikNews
Dilan Corner Menuai Pro Kontra, Begini Penampakannya Saat Ini Foto: Mochamad Solehudin
Bandung - Pembangunan Dilan Corner yang digagas Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menuai pro dan kontra. Banyak pihak mempertanyakan tujuan dan maksud di balik pembuatan 'monumen' yang dinilai lebay itu. Lalu seperti apa penampakannya saat ini?

Kamis (28/2/2019) siang, detikcom mencoba melihat kembali lokasi pembangunan Dilan Corner. Lokasinya itu berada di salah satu sudut area taman Gor Saparua, Kota Bandung. Tepatnya di titik yang mengarah Jalan Saparua.

Berdasarkan pantauan di lapangan, tidak ada banyak kegiatan di lokasi pembangunan Dilan Corner tersebut. Hanya terlihat beberapa anak muda yang tengah duduk menikmati suasana area taman di sekitar lokasi pembangunan.



Selain itu, tidak ada pengerjaan apapun di lokasi tersebut. Hanya tampak beberapa bata merah yang menjadi simbol peletakan batu pertama pembangunan 'monumen' tersebut.

Bila diperhatikan luas Dilan Corner bila nanti dibangun tidak terlalu besar. Diperkirakan hanya berkisar antara lima meter kali lima meter atau mungkin kurang.

Dilan Corner Menuai Pro Kontra, Begini Penampakannya Saat IniFoto: Mochamad Solehudin


Saat mencoba menanyakan terkait pembangunan Dilan Corner kepada salah satu petugas keamanan, memang belum ada pengerjaan apapun di lokasi tersebut. "Iya belum ada apa-apa," ucap petugas tersebut.



Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya dan para pemain film Dilan 1991 secara simbolis melakukan peletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan Dilan Corner, di area Gor Saparua, Kota Bandung, Minggu (24/2/2019).

Emil sapaan Ridwan Kamil beralasan pembangunan Dilan Corner sebagai bentuk apresiasi terhadap keberhasilan film karya anak bangsa. Selain itu dia juga berharap Dilan Corner bisa menjadi tempat belajar sastra baik menulis dan membaca bagi siapapun.

"Sebuah tempat ajang literasi jadi film Dilan, sastra novel, terwujud jadi film. Jadi dua dimensi ini muncul masa depan yang sudut ini bisa untuk membaca novel sastra, dunia komunikasi atau menulis. Tempatnya bisa nongkrong, sejarah film Dilan lebih keren artistik," ucapnya.

Namun nampaknya keputusan Emil membuatkan 'monumen' untuk sebuah film mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Mulai dari pakar komunikasi politik, pengamat hukum tata negara hingga para budayawan mengkritik keputusan Emil tersebut.



Pasalnya mereka tidak melihat korelasi antara film Dilan dengan konteks Jawa Barat. Tanpa bermaksud merendahkan kualitas film Dilan 1991, mereka menilai masih banyak tokoh lain yang lebih layak dibuatkan 'monumen' ketimbang tokoh fiktif seperti Dilan.

"Jadi boleh-boleh saja, tapi seharusnya sebagai pejabat publik bisa memilih film yang mengandung pesan-pesan monumental. Sekarang saya tanya hubungan film Dilan dengan Jabar apa? Sebutlah produk literasi, tapi menurut saya tidak sedikit novel jadi film. Jadi menurut saya itu alasan yang mengada-ada," kata pakar komunikasi politik UPI Karim Suryadi, Selasa (26/2/2019).
(mso/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed